bahasa

Bahasa Indonesia

Pertemuan

Di dalam sebuah situasi, saya bertemu dengan seorang dosen dari sebuah program studi (saya lupa lagi) di suatu tempat. Lantas kami berbasa-basi karena kebetulan kami duduk dan ngopi satu meja. Posisi duduk kami yang berseberangan menuntut kami untuk saling menyapa. Lantas sampai pada pertanyaan yang dia ajukan “Ngajar mata kuliah apa Pak?” Saya pun menjawab bahwa saya mengajar mata kuliah Bahasa Indonesia. Wajahnya tersenyum agak menyepelekan mendengar jawaban saya. Lantas dia bilang “Oh…” sebagai ekspresi yang menunjukkan bahwa dia tidak mau melanjutkan pembicaraan. Saya pun sibuk dengan kopi yang saya minum sampai dosen tersebut akhirnya pamit pergi. Kejadian serupa, bisa dikatakan lebih dari satu kali saya alami. Jadi saya tidak terlalu kaget jika menemukan kejadian serupa.

Mungkin bagi sebagian orang (bahkan dosen!), mata kuliah Bahasa Indonesia (dengan berbagai nama yang berbeda di beda perguruan tinggi: Bahasa Indonesia, Bahasa Indonesia Akademik, Metode Penulisan Ilmiah, Metode Penulisan Ilteks, Metode Penulisan Laporan, Teknik Penulisan Ilmiah, dll) dianggap sebagai mata kuliah pelengkap, yang kurang atau bahkan tidak penting. Begitulah.

Tentu saya sebagai dosen yang mengajar Bahasa Indonesia dalam banyak hal merasa tersinggung, tapi juga terbiasa melihat situasi yang menggelikan ini. Belajar bahasa, bagi sebagian orang, terutama belajar bahasa Indonesia merupakan hal yang tidak perlu atau tidak penting. Akan tetapi jika melihat fakta-fakta yang nanti saya ceritakan di bawah, kadang saya bingung, tersenyum geli, atau kadang juga merasa kesal.

 

Belajar Bahasa

Pembelajaran bahasa (Indonesia) di perguruan tinggi, tampaknya, di dalam banyak aspek agak berbeda dengan pembelajaran bahasa di tingkat dasar atau menengah. Tentu fondasi-fondasi penting mengenai bagaimana menggunakan bahasa, hafalan tentang berbagai konsep bahasa dan sastra, dan berbagai hal lainnya sudah dipersiapkan dengan sangat baik di tingkat dasar dan menengah. Pembelajaran bahasa di perguruan tinggi dalam banyak hal ditujukan untuk mengasah kemampuan para mahasiswa bisa berkomunikasi dengan baik dan dapat menulis dengan baik. Oleh sebab itu, pembelajaran bahasa Indonesia di perguruan tinggi difokuskan pada pembentukan kemampuan berlogika dan kemampuan menyusun ide-ide menjadi sebuah karya ilmiah yang layak dibaca.

Saya sering menekankan kepada mahasiswa bahwa belajar bahasa Indonesia dan teknik penulisan karya ilmiah dalam banyak hal menjadi fondasi penting bagi langkah studi mereka di mata kuliah lain dan di tahap berikutnya. Menulis tentu menjadi sebuah tuntutan yang akan rutin dihadapi mahasiswa di berbagai berbagai perkuliahan dan situasi. Lebih jauh, pembelajaran bahasa Indonesia dan menulis ilmiah bisa menjadi bekal yang penting jika mereka ingin berkarier di dunia akademik atau merintis jalan menuju kecendekiaan.

Bahasa menjadi tulang punggung yang akan mengantarkan sebuah ide untuk dibaca orang lain, dibaca dunia. Prof. Bambang Sugiharto di dalam buku Postmodernisme Tantangan bagi Filsafat (2012) menjelaskan pandangan Heidegger bahwa “sebelum kita dapat menggunakan bahasa untuk menyampaikan informasi sebetulnya bahasa sendirilah yang menampilkan realitas dunia tampil pada kita dalam segala keragaman dan keunikannya. Bahasa pulalah yang memungkinkan kita berpikir tentang kemungkinan-kemungkinan, kualitas, hubungan, nilai, dsb.”

Bahasa merupakan tulang punggung yang memungkinkan kita memahami realitas, memikirkannya, dan menyampaikannya kepada orang lain. Apa yang kita pikirkan akan mencapai situasi konkretnnya manakala dia dibahasakan (diujarkan, dituliskan). Bahkan seorang Demirovic, menyatakan bahwa ideologi mencapai materialitas nyata dalam tanda-tanda linguistik yang ada dalam wacana (Titscher, dkk. 2009).

Mempelajari bahasa di dalam banyak hal bukan melulu tentang bagaimana kita memahami bentuk-bentuk bahasa yang benar dan yang salah. Ada yang jauh lebih penting dari itu. Mempelajari bahasa dan mempelajari bagaimana kita memaksimalkan bahasa untuk menghasilkan makna di dalam hidup dan ilmu pengetahuan kita. Prof. Bambang Sugiharto (2012: 96) dengan sangat menarik mengatakan bahwa bila benar yang dikatakan Heidegger bahwa “bahasa adalah rumah tempat tinggal sang Ada”, akan lebih benarlah bila kita katakan bahwa bahasa adalah rumah bagi pengalaman-pengalaman yang bermakna.

 

Realitas

Di luar mengajar, saya juga aktif menulis dan menjadi editor. Sekali-kali saya menulis untuk media massa, kadang menulis jurnal, kadang menulis buku, kadang untuk blog pribadi. Sebagai editor, bertahun-tahun saya aktif dan bergulat sebagai editor pelaksana di sebuah jurnal nasional. Kadang juga saya menerima “orderan” ngedit buku.

Saya akan ceritakan mengenai pengalaman menjadi editor jurnal. Menjadi editor jurnal, bagi saya adalah pekerjaan yang menantang dan memacu adrenalin (berlebihan ya…). Di kalangan editor dan pengurus jurnal ada ungkapan “hanya orang-orang gila yang mau kerja dan mengurus jurnal”. Ya, kenapa demikian? Karena menjadi editor dan pengurus jurnal adalah kerja sukarela. Pada umumnya, editor dan pengurus jurnal ilmiah berkala tidak mendapatkan upah dari apa yang mereka kerjakan. Semuanya dilakukan karena renjana dan dedikasi. Selain itu, tentu saja kami harus mengeluarkan tenaga dan pikiran ekstra.

Pada masa awal-awal ikut mengurus jurnal, berburu naskah adalah hal yang paling sulit dilakukan. Tidak banyak naskah yang masuk ke meja redaksi. Oleh sebab itu, dewan editor harus rajin-rajin berburu naskah: menawari kolega atau kenalan dari berbagai kalangan akademisi dan peneliti. Setelah mendapatkan naskah, tantangan berikutnya adalah bekerja keras untuk menyiapkan naskah supaya siap disajikan ke publik luas.

Kondisi yang agak berbeda dirasakan ketika jurnal sudah terakreditasi. Naskah yang masuk ke meja redaksi meningkat. Secara kuantitatif kami agak terbantu. Akan tetapi secara kualitas, diperlukan kerja keras yang kadang cukup berat.

Dari sekian banyak naskah yang masuk, umumnya cukup sulit mendapatkan naskah yang layak dan siap disajikan ke publik luas. Dewan editor dan mitra bestari (reviewer) biasanya harus bekerja keras menemukan naskah yang akan dipublikasikan dan memberi masukan kepada penulis.

Kadang, kami menerima naskah yang tingkat keterbacaannya rendah sekali, perlu pembacaan yang sangat teliti dan hati-hati. Hal ini biasanya karena penulis bahkan tidak memahami apa itu kalimat. Ada banyak rangkaian kata-kata disusun dan diakhiri titik, tetapi bukan kalimat. Ia tidak mengandung ide atau pokok pikiran apa pun. Umumnya naskah seperti ini berakhir pada keputusan “ditolak” untuk dimuat.

Ada yang tingkat keterbacaannya sedang. Ia masih bisa dipahami, tetapi memerlukan usaha ekstra. Ada yang tingkat keterbacaannya sudah bagus, tetapi tentu biasanya masih harus dipoles sana-sini untuk bisa disajikan ke publik luas. Ada juga naskah yang seutuhnya disampaikan dalam ragam lisan.

Tidak jarang naskah yang dikembalikan kepada penulis untuk diperbaiki, dikembalikan ke redaksi dengan kondisi yang tidak banyak berubah. Sementara waktu terbitnya jurnal semakin mepet. Di minggu-minggu menuju terbitnya sebuah edisi, biasanya para editor dan penata letak (layouter) akan lebih sering lembur untuk menyiapkan tulisan hingga siap dibaca publik. Sering bahkan para editor harus rela tidak pulang menginap di kantor atau membawa pekerjaan ke rumah dengan begadang bermalam-malam. Biasanya para editor dan penata letak jungkir balik memperbaiki naskah-naskah tersebut supaya siap baca. Satu naskah kadang bisa ditangani beberapa editor. Setelah selesai diedit oleh editor pertama, lanjut diedit ulang oleh editor berikutnya, diperbaiki penata letak, dan seterusnya sampai naskah itu siap.

Kadang jika mengingat pertemuan dengan orang-orang yang menyepelekan bahasa Indonesia atau mata kuliah Bahasa Indonesia, saya suka merenung jika menghadapi realitas yang saya temui di dalam pengelolaan jurnal. Apa yang salah? Di satu sisi, ada orang-orang yang melihat pembelajaran berbahasa dan menulis secara sebelah mata. Di sisi lain, saya menemukan realitas kemampuan menulis yang seperti di atas.

Di kelas saya sering menekankan kepada mahasiswa, bahwa mereka harus secara aktif mempelajari bahasa dan menulis. Latihanlah menulis dengan membuat blog pribadi, ikut lomba, menulis di media, dan sebagainya. Bacalah ejaan karena ia akan menjadi fondasi makna, bacalah kamus karena ia akan memperkaya pikiran, pelajarilah kalimat karena ia tulang punggung pikiran, dan seterusnya. Jangan sampai mereka merepotkan pembimbing di masa penulisan tugas akhir. Pembimbing cukup dipusingkan dengan konten penelitian, jangan sampai mereka juga ikut pusing membenahi bahasa.

Akan tetapi, saya juga sering mengingat otokritik yang sering disampaikan mentor menulis saya, Pak Acep Iwan Saidi. Seorang guru menulis seharusnya belajar dari guru renang. Seorang guru renang harus jago berenang sebelum ia mengajar seorang murid untuk berenang. Setidaknya, jika muridnya tenggelam, guru itu bisa menolong muridnya. Demikian juga guru bahasa dan menulis, ia haruslah orang yang aktif menulis atau paham dunia kepenulisan (termasuk di dalamnya editor, pembaca yang hebat, pemerhati dan pecinta bahasa).

Menjadi editor bahasa kadang membuat saya sendiri mawas diri. Kalau saya menulis, saya harus memastikan apa yang saya sampaikan melalui tulisan saya memiliki keterbacaan yang cukup bahkan tinggi. Saya tidak ingin merepotkan editor bahasa di penerbitan, media, atau jurnal kepayahan memperbaiki apa yang saya sampaikan. Demikianlah. Wallahualam.***

 

Daftar Pustaka

Sugiharto, Bambang. (2012). Postmodernisme: Tantangan bagi Filsafat. Yogyakarta: Kanisius.

Stefan Titscher, dkk (2009). Metode Analisis Teks dan Wacana. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

 

2 thoughts on “Bahasa Indonesia

  1. Terima kasih untuk catatan ini, Pak. Omong-omong, saya mantan murid Bapak dulu di ITB tahun 2013. Mungkin Bapak tidak ingat. Hehe.
    Saya baru lihat-lihat kiriman Bapak di Twitter beberapa bulan ke belakang, apalagi waktu buku Bapak terbit.
    Semoga sehat selalu, Pak! Dan semoga bisa bertemu lagi 🙂

    • Sama-sama mas. Saya masih ingat nama, walau mungkin kalau ketemu saya lupa wajah mas. hehe… Amin. Semoga ada kesempatan yang baik buat bertemu ya mas. Salam hangat- Jejen J.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *