patung cihampelas

Cihampelas

Ketika masih kecil, saya dan saudara sering diajak ayah berkeliling Bandung. Di perjalanan, biasanya ayah menceritakan tentang tempat-tempat yang kami kunjungi. Saya tentu merasa senang.

Dari sana saya tahu berbagai tempat di Bandung. Di mobil biasanya saya duduk di kursi depan karena di sana saya dapat melihat pemandangan dengan leluasa dibandingkan di kursi belakang. Sebagai anak kedua terkecil (sebelum adik yang masih bayi) saya biasanya memiliki keleluasaan untuk memilih tempat duduk. Kursi depan ini biasanya menjadi rebutan saya dan dua kakak saya, semuanya selalu ingin duduk di depan.

Pada hari-hari biasa, ayah biasanya sibuk dengan pekerjaannya sebagai pedagang. Biasanya dia meluangkan waktu untuk mengajak anak-anaknya pada hari Minggu, pada saat anak-anaknya libur sekolah. Selain berkeliling kota, kami biasanya berkunjung ke tempat wisata. Dari Minggu ke Minggu kami diajak ke berbagai tempat mulai dari Kolam Renang Karang Setra, Kolam Renang Tjihampelas, kebun binatang, alun-alun, pusat perbelanjaan jins Cihampelas, Balai Kota, Palaguna, Galaxy, Takara, dan berbagai tempat lainnya.

Pada tahun 90-an ruas-ruas jalan di Bandung masih lengang, tidak ada kemacetan. Berbagai ruas jalan itu pula masih dirimbuni pohon-pohon besar. Jarak tempuh dari Terminal Cicaheum ke Gasibu bisa ditempuh hanya dengan waktu 10-15 menit menggunakan mobil pada jam padat. Berbeda dengan hari ini, jarak tempuh dari Terminal Cicaheum ke Gasibu paling tidak harus ditempuh dengan waktu 30-45 menit bahkan lebih dari satu jam pada jam padat.

Ada berbagai kenangan tempat tahun 90-an yang masih melekat di dalam benak saya hingga kini. Salah satu yang masih melekat hingga kini adalah suasana pusat perbelanjaan jeans Cihampelas.

Ketika ayah mengajak jalan-jalan ke Cihampelas, kami selalu senang bukan kepalang. Bukan belanja jeans atau baju yang kami bayangkan, tetapi patung-patung yang menjadi ciri khas toko-toko di sini yang kami sambut. Biasanya kami berimajinasi akan bertemu Rambo, Superman, Spiderman, Batman, Perahu, Aladin, dan berbagai patung lainnya.

Daya Pikat Cihampelas  

Cihampelas selama berpuluh-puluh tahun menjadi ikon wisata Kota Bandung. Ia selalu menjadi magnet wisata yang menjadi daya tarik baik baik orang Bandung sendiri, wisatawan nasional, maupun internasional. Selain menawarkan produk-produk pakaian lokal, secara visual kawasan Cihampelas menawarkan suasana yang sangat khas.

Deretan pertokoan dengan patung dan ornamen visual lainnya yang khas di tiap-tiap toko menjadikan Cihampelas magnet bagi para wisatawan. Ahda Imran menuliskan “Sejak akhir tahun 1980, di awal perubahannya dari kawasan hunian menjadi kawasan perdagangan jins dan fesyen, Cihampelas mulai ingin memiliki karakternya sendiri sebagai sebuah ruang visual yang berlainan dengan kawasan-kawasan lain. Tak hanya di Bandung, tapi juga di kota-kota besar lainnya di Indonesia atau mungkin di dunia.”.

Hal ini menjadi ciri khas kawasan Cihampelas selama bertahun-tahun. Orang datang bukan hanya untuk berbelanja, tetapi juga menikmati ruang visual yang khas. Para pelaku usaha di kawasan ini sadar bahwa bentang visual dan suasana yang khas akan mengundang banyak orang untuk datang ke kawasan ini. Dengan demikian, kawasan perbelanjaan Cihampelas memiliki “tempat” tersendiri di dalam pengalaman para pengunjung.

Cihampelas memberikan suguhan pengalaman bagi warga kota Bandung dan para wisatawan yang datang ke kawasan ini. Pengalaman ini lantas mengendap menjadi memori kolektif warga. Ketika mendengar atau membaca kata Cihampelas, dengan sendirinya imaji banyak orang akan memanggil pengalaman visual tentang patung-patung dan berbagai ornamen visual lainnya. Orang akan mengingat patung Spiderman, Rambo, Perahu, Batman, dan seterusnya.

Menurut Tilley (1999) kedekatan fisik dari budaya material sangat signifikan: ‘metafora material memiliki kualitas kerapatan dalam hal setiap aspek artefak berkontribusi terus-menerus terhadap maknanya dan saling terkait secara signifikan’. Kedekatan fisik inilah yang membuat budaya material begitu potensial sebagai metafora untuk pengalaman memori. Berbagai visual yang terbentang di ruang Cihampelas menjadi bagian memori kolektif banyak orang.

Akan tetapi, di dalam perkembangan belakangan, bentang ruang visual Cihampelas ini terancam oleh pembangunan kota. Bentang visual itu hancur oleh pembangunan: Teras Cihampelas (sky walk).

Pembangunan dan Keterputusan

Jika Anda lewat ke Cihampelas sekarang, Anda akan melihat suasana yang sama sekali lain. Teras Cihampelas hadir dan merenggut ruang visual Cihampelas yang selama berpuluh tahun hadir di sana.

Berbekal alasan pembenahan pedagang kaki lima di kawasan Cihampelas, Pemkot Bandung membangun sky walk yang kemudian dinamai Teras Cihampelas. Penamaan proyek sky walk sesungguhnya agak kacau karena teras Cihampelas tidak menghubung satu lokasi dengan lokasi lain sebagaimana umumnya sky walk di banyak negara. Hal ini berbeda jika kita berkunjung ke Shinjuku, di Tokyo, sky walk menghubungkan stasiun metro, mal, pusat pemerintahan, galeri, dan berbagai tempat lainnya.

Pembangunan Teras Cihampelas bisa dilihat sebagai proyek ahistoris yang tidak melihat konteks ruang tempat proyek itu hadir. Ia hadir begitu saja dan membunuh ruang pengalaman yang telah berpuluh tahun hadir di sana. Sedikit demi sedikit toko-toko yang tadinya memajang patung khas menurunkan patungnya. Perspektif untuk melihat patung-patung itu pun dibunuh dengan hadirnya tiang-tiang yang teramat banyak dan konstruksi Teras Cihampelas. Ketika kita lewat ke jalan Cihampelas kita merasakan berjalan di kolong jembatan yang panjang dengan toko-toko di kiri dan kanan, serta semrawutnya parkir kendaraan. Dibanding menjadi solusi atas permasalahan yang lalu (pedagang kaki lima), ia justru hadir sebagai masalah itu sendiri.

Anak-anak masa kini mungkin sudah tidak lagi merasakan sensasi berimajinasi masuk ke kawasan penuh superhero ketika diajak ke Cihampelas. Cihampelas sebagai ruang visual dengan karakter yang khas sejak tahun 80-an harus tunduk pada perubahan. Ia perlahan dibunuh oleh pembangunan yang ahistoris. Pembangunan sebuah kawasan dengan sesuatu yang baru kadang memang perlu. Akan tetapi, meminjam kalimat Goenawan Mohamad “yang sering dilupakan ialah bahwa ”yang perlu” belum tentu ”yang niscaya”.

 

Rujukan

Imran, Ahda. “Cihampelas (3), Belanja dalam Ruang Visual” dalam Pikiran Rakyat, 26 September 2010. Diambil dari http://meditasisamudra.blogspot.co.id diakses 28 Juli 2017 http://meditasisamudra.blogspot.co.id/2012/03/cihampelas-1-belanja-dalam-ruang-visual.html

Jones, Andrew. 2007. Memory and Material Culture. Cambridge: Cambridge University Press.

sumber foto: https://commons.wikimedia.org

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *