gegar budaya

Gegar Budaya

Seorang teman, peneliti dari Amerika, datang ke Bandung beberapa tahun lalu. Di Bandung, ia berencana tinggal beberapa bulan dan akan melakukan penelitian beberapa bulan berikutnya di Pulau Komodo. Di Bandung, ia akan belajar bahasa Indonesia, kebetulan saya menjadi pengajarnya.

Ketika pertama kali ia sampai ke Indonesia, ia langsung merasa stres. Ia terkejut dengan keadaan di Indonesia: ada banyak sekali sepeda motor dan mobil di jalanan. Selain itu, ia juga mengeluhkan angkutan umum yang setiap saat berhenti untuk ngetem atau menurunkan penumpangnya, kendaraan yang tidak memberi jalan kepada penyeberang jalan, kendaraan yang memenuhi garis zebra cross di perempatan, dan berbagai hal lainnya. Selama beberapa pekan awal dia mengalami stres yang luar biasa. Dalam pandangannya, negara ini (Indonesia) sungguh kacau. Berkali-kali ia bilang ke saya “Jumlah sepeda motor di kota ini lebih dari jumlah penduduk kota tempat saya berasal, banyak sekali!” Ia mengalami gegar budaya.

Gegar budaya adalah fenomena yang umum terjadi kepada siapa pun yang masuk ke lingkungan, kondisi, atau tempat yang sama sekali baru. Seseorang yang datang dari keadaan sosial, budaya, lingkungan yang berbeda ke sebuah tempat, kelompok sosial, budaya dan lingkungan yang berbeda.

Ketika musim kuliah tiba, misalnya, ada banyak mahasiswa yang datang ke tempat ia berkuliah. Bagi orang yang datang dari luar kota, dengan latar belakang sosial budaya yang berbeda dengan tempat barunya, kadang ia mengalami gegar budaya. Ada banyak kebiasaan, hal, dan suasana baru di kota tempat ia kuliah.

Kemungkinan

Orang dapat mengalami kebingungan menghadapi berbagai hal yang dianggapnya baru. Hal ini memunculkan beberapa kemungkinan. Pertama, orang tersebut dapat beradaptasi baik sehingga ia dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya. Kedua, ada orang yang tidak dapat beradaptasi secara baik sehingga ia kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya. Ketiga, ada juga orang yang mudah larut dengan kondisi baru yang ia hadapi. Kebiasaan, perilaku, dan nilai-nilai yang ia anut di tempat asalnya, tiba-tiba tergantikan dengan segala hal yang baru ia hadapi. Ia terpukau dengan keadaan baru yang ia alami sekarang ini.

Untuk tipe pertama, agaknya tidak ada masalah. Akan tetapi, untuk tipe kedua dan ketiga, inilah yang dinamakan gegar budaya. Pada tipe kedua, orang ini mengalami kesulitan menyesuaikan diri (beserta nilai, keyakinan, kebiasaan yang ia anut di tempat asalnya). Pada tipe ketiga, orang ini dapat menyesuaikan diri dengan cepat, tetapi sekaligus secepat itu pula ia menghilangkan nilai, keyakinan, kebiasaan yang ia anut di tempat asalnya. Semuanya diganti dengan hal-hal yang baru ia temui di tempat baru. Misalnya, seseorang di tempat asalnya begitu taat dengan adat, agama, dan menganut nilai-nilai budaya dengan baik, tetapi ketika ia pindah ke kota besar, tiba-tiba semua itu luntur. Pakaian keagamaan, budaya, nilai yang ia anut tiba-tiba luntur. Ia tiba-tiba merasa menemukan sesuatu yang baru, dan ia tersilaukan olehnya.

Tipe ketiga ini, di dalam peribahasa Sunda dikenal dengan “kuda leupas ti gedogan” (kuda lepas dari kandangnya). Kira-kira begitu. Misalnya, seseorang yang tadinya sangat saleh di kampung asalnya, tiba-tiba menjadi anak dugem yang kecanduan dunia malam di kota besar.

Gegar budaya bisa terjadi di mana saja dan di dalam banyak kondisi. Di dunia kerja sekalipun, misalnya, gegar budaya bisa saja terjadi. Seseorang yang telah lama menjadi pejabat, misalnya, dapat mengalami gegar budaya ketika ia tidak lagi menjabat dan kembali ke masyarakat. Ketika ia menjabat, ia memiliki kekuasaan yang besar dan biasa dilayani, tiba-tiba ia kembali menjadi orang biasa. Ini biasanya dikenal dengan “post-power syndrome”. Kadang ia masih merasa berkuasa sebagai pejabat, padahal sudah tidak. Hal ini juga bisa terjadi kepada para pegawai yang biasa melakukan pekerjaan di kantor, lantas ia pensiun. Akan tetapi, bisa juga sebaliknya, seseorang yang tadinya bukan siapa-siapa, tiba-tiba ia mendapat posisi bagus di tempat kerja atau jabatan tinggi. Bisa saja tiba-tiba ia merasa besar kepala dan merasa paling hebat karena mendapat kekuasaan, identitas, dan berbagai fasilitas yang sebelumnya tidak ia kenal. Ia tidak siap menerima “kemewahan” baru.

Contoh lain juga sering kita dengar OKB (orang kaya baru) di masyarakat. Misalnya, seseorang yang tiba-tiba memiliki kemampuan ekonomi bagus tetapi perilaku sosial budayanya tidak berubah. Sering kita lihat orang menggunakan mobil bagus, tetapi ia membuang sampah ke jalan. Sering juga kita lihat orang menggunakan pakaian dan pernak pernik melebihi kondisi lingkungan tempat ia berada.

Begitulah, gegar budaya terjadi. Ia dapat menimpa siapa pun dan di dalam kondisi apa pun. Setahu saya, di dalam budaya Sunda, ia dikenal dengan nama “unggah adat” dan di dalam bahasa Inggris ia dikenal dengan “shock culture”.

Perpindahan orang dari ruang-waktu yang satu ke yang lain, dari budaya satu ke budaya yang lain, dari posisi tertentu ke posisi yang lain, dan berbagai perpindahan lain dapat memerangkap kita ke dalam gegar budaya.

Kesadaran

Tentu untuk menghindarinya, diperlukan usaha dan kesadaran maksimal atas kondisi diri dan kondisi lingkungan yang kita hadapi. Teman saya yang Amerika di atas, misalnya, dalam beberapa pekan dapat beradaptasi dengan baik. Pada awalnya dia stres melihat angkutan kota yang selalu ngetem dan berhenti di sembarang tempat, akhirnya menganggap naik angkot sebagai sebuah petualangan (kadang mendekati mati). Dan ia menertawakan pengalaman yang ia hadapi.

Pada awal-awal, tinggal di Indonesia, ia juga bingung dengan rute angkutan bus yang melayani perjalanan antar kota karena jadwal yang tidak pasti dan perjalanan yang sangat lama. Akan tetapi, pada akhirnya ia menikmati itu. Ia katakan kepada saya “Kamu bisa pergi ke mana pun di sini, dengan menggunakan apa pun, semuanya murah dan menyenangkan. Ya perjalanan ‘hanya’ enam jam menuju Pelabuhan Ratu atau Pangandaran”. Lantas ia menikmati hobi selancar di pantai dan menemukan hobi baru melakukan perjalanan menggunakan bus ekonomi. Ia menikmati setiap sapaan yang dilayangkan orang karena ‘kebuleannya” dan ia menemukan sahabat sopir bus, kernet, sopir angkot, tukang ojek, pedagang makanan, penjaga penginapan, dan sebagainya. Ia menikmatinya dan lantas merasa ingin menjadi orang lokal. Ia bisa beradaptasi dengan baik.

Begitulah, gegar budaya bisa menghinggapi siapa saja.

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *