Hujan

Hujan

Beberapa pekan ini hujan terus mengguyur Kota Bandung. Dalam dua pekan terakhir, terasa intensitas hujan sangat tinggi. Hujan turun seperti air yang begitu saja ditumpahkan dari langit. Hujan turun dengan sangat deras dan waktu yang cukup lama.

Memang, November menjadi sangat identik dengan hujan. Bagi saya, yang berangkat untuk melakukan aktivitas menggunakan sepeda motor, hujan menjadi tantangan tersendiri. Memasuki bulan-bulan ini, saya harus bersiap menerjang hujan dan banjir cileuncang. Sebagai pelengkap, tentu saya harus menyiapkan jas hujan dan sepatu anti air sehingga tubuh saya terlindung dari risiko kebasahan dan kedinginan.

Seringnya, hujan turun pada tengah hari menjelang sore, sore, atau malam. Akan tetapi, kadang hujan turun di waktu-waktu yang tidak diduga. Pernah satu kali ketika saya ada janji bertemu dengan seseorang agak pagi di sebuah tempat di Dago, hujan turun dari sebelum Subuh. Ketika bangun tidur, saya terkejut mendengar hujan turun sepagi itu. Tentu, saya menaruh harapan, mungkin hujan akan reda sebentar lagi. Seperti biasanya kebanyakan orang, saya menduga-duga kalau hujan yang turun deras biasanya tidak berlangsung lama. Akan tetapi, dugaan saya itu meleset, hujan turun terus dengan deras hingga jam menunjukkan pukul 7 pagi. Karena sudah terlanjur membuat janji dan tidak bisa membatalkannya, terpaksa saja saya menerobos hujan pagi itu.

Sesampainya di Ciwastra, lalu lintas hampir sulit untuk bergerak, saya terjebak di sana. Selain karena jam-jam itu memang jam padat karena orang akan berangkat kerja dan sekolah, ternyata kemacetan juga dipicu banjir di daerah perumahan Bakung. Banjir menggenangi jalan raya hampir setinggi 40 centimeter. Memang setiap hujan deras melanda, daerah ini menjadi langganan banjir. Hujan deras dan banjir menjadi mimpi buruk yang sempurna untuk orang-orang yang akan beraktivitas pagi itu.

Pilihan

Hujan memang selalu memberikan pilihan-pilihan kepada kita. Pada musim kemarau biasanya kita merindukan hujan. Jika terjadi kemarau panjang, orang-orang berdoa atau bahkan melakukan sembahyang agar hujan segera turun. Akan tetapi, ketika musim hujan mulai tiba, orang-orang mengeluh juga. Begitulah biasanya kita menghadapi hujan.

Biasanya, ketika musim hujan turun, datang pula musim banjir. Beberapa hari yang lalu, saya menerjang banjir cileuncang hampir di sepanjang jalan pulang. Di tengah hujan yang sangat deras, cileuncang menggenang Jalan Supratman bawah, Ahmad yani, Binong, dan puncaknya di Ciwastra.

Kadang saya lihat, entah ini kebetulan atau bagaimana saya kurang tahu, beberapa pekerjaan proyek penanganan banjir dilakukan ketika musim hujan datang. Saya kadang merasa heran. Selama musim kemarau beberapa bulan yang lalu, hampir tidak saya lihat pekerjaan memperbaiki drainase. Akan tetapi, ketika musim hujan datang, muncullah beberapa proyek pengerjaan drainase dan trotoar.

Saya tidak tahu persis apa penyebabnya. Apakah karena saya saja yang kurang jeli melihat, atau memang anggaran pengerjaan proyek ini memang selalu turun menjelang akhir tahun. Satu yang pasti, bahwa ketika hujan turun cukup deras, banjir cileuncang pun tidak terelakkan.

Kadang saya juga bingung melihat kawasan yang sama selalu diterjang banjir setiap musim hujan datang. Daerah Ciwastra, depan Perumahan Bakung, misalnya, dari tahun ke tahun selalu saja seperti itu. Anehnya lagi, hal ini tidak menjadi perhatian pemerintah. Tidak pernah ada sekalipun perbaikan drainase di daerah ini. Saya pikir, jika pemerintah kota tidak mampu memperhatikan kawasan-kawasan yang jauh dari pusat kota, kan ada kelurahan dan kecamatan yang bisa melaporkan hal ini kepada pemerintah kota supaya bisa segera ditindaklanjuti. Akan tetapi, begitulah, setiap hujan deras, setiap itu banjir melanda.

Hujan dan Kontemplasi

Bagi saya pribadi, hujan memang menantang di saat-saat saya melakukan aktivitas. Daripada mengeluhinya, saya lebih banyak menikmatinya. Di saat-saat hujan, saya biasa lebih produktif untuk membaca atau menulis. Entah kenapa. Mungkin suasana yang dingin membuat hati juga lebih dingin dan tenang.

Kata seorang teman, hujan adalah persemaian bagi seorang penyair. Hujan bisa menghadirkan suasana yang sendu, khidmat, tenang, dan sebagainya. Di dalam hujan, kenangan dan imajinasi mengalir deras.

Saya sering bercanda dengan seorang teman yang punya jadwal ngajar hingga larut sore di sebuah universitas. Ketika saya sudah beristirahat di rumah dengan segelas kopi atau teh, dia baru pulang mengajar menjelang pukul 6 sore. Katanya, melalui pesan wa “Epik kieu, euy, jam sakieu kakara balik ngajar. Hujan, di lift sorangan, poek, petugas ruangan geus ngadagoan ti tadi”. Saya membalasnya dengan bercanda “Ditambah lagu, pas sigana mun dijieun video klip… haha…”

Hujan selalu membawa perbedaan suasana. Tiba-tiba rasa rindu menusuk-nusuk di sana. Kadang, kesendirian terasa sempurna di dalam balutan hujan. Kesedihan pun kadang bisa jadi menyayat di dalam hujan.

Hujan, selalu membawa berkah bagi banyak orang—walau kadang juga membawa bencana jika kita tidak mengantisipasinya. Bagi saya pribadi, hujan adalah saat-saat yang tepat untuk mendalami diri. Di dalam hujan, saya banyak merenung dan berimajinasi. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *