kerukunan umat beragama

Kepercayaan

Pindah

Saya tumbuh besar di rumah orang tua, Kampung Sinom di Jatihandap, Cicaheum, Bandung. Ayah membeli rumah di sana pada tahun 1990. Pada tahun yang sama kami pindah dari rumah sebelumnya di Cijerah. Pada saat pindah ke sana, suasana di sana masih sangat kampung walaupun terletak di Kodya Bandung. Jalanan tanah merah yang belum disentuh aspal, kebun yang masih luas di sana sini, rumah-rumah bilik panggung, kandang sapi, makanan dari kebun yang bisa dimakan kapan pun, dan tentu saja orang-orang yang sangat ramah dan cepat akrab.

Kami cepat beradaptasi dengan kehidupan di sana. Udara yang masih segar dan dingin khas pegunungan menjadi hal yang membuat kami kerasan tinggal di sana. Saya dan kedua kakak dengan cepat mendapatkan teman bermain. Dalam tempo waktu yang cepat kami segera bergabung dengan anak-anak kampung menjelajahi lading-ladang, sawah, padang ilalang, sungai, lapangan sepak bola, kuburan cina, hutan bambu, dan berbagai tempat di sana.

Kami pun diajak bergabung ikut latihan seni bela diri pencak silat oleh tetangga depan rumah, Kang Dadang. Di rumahnya kami melakukan latihan bersama anak-anak lain. Kadang, ketika ada ujian, semacam kenaikan tingkat kami menginap di sana.

Kami berinteraksi dengan lingkungan yang menyenangkan dan tumbuh dengan suasana kekeluargaan sampai dewasa. Di sana, tetangga tidak pernah harus merasa malu untuk meminta bumbu bahkan makanan ke tetangga. Begitu juga ketika menginginkan buah atau sayuran hasil kebun, siapa pun bisa meminta atau bahkan mengambil begitu saja dari kebun tetangga. Tentu ini mesti dilakukan dengan satu syarat: harus dimakan sampai habis.

Anak-anak menghabiskan hari-hari sepulang atau sebelum sekolah dengan bermain di kebun, sawah, kuburan cina, hutan bambu, sungai, lapangan sepak bola, halaman tetangga dan seterusnya. Rasanya, kami tidak pernah kehabisan lahan bermain. Pada musim-musim tertentu kami berburu jangkrik di kebun, bermain rumah pohon, berburu burung, dan berbagai hal lainnya.

Kerukunan

Pada saat kami pindah ke sana, sebagian besar penduduk memeluk kepercayaan lokal. Sebagian lagi memeluk agama Islam, termasuk keluarga kami. Sebagian lagi memeluk agama Islam bercampur kepercayaan lokal. Yang menarik, walaupun kepercayaan penduduk di kampung ini berbeda-beda, kami tetap hidup dengan rukun.

Kami, anak-anak muslim biasanya melakukan kegiatan mengaji di rumah seorang tetangga karena kebetulan pada saat awal pindah, di sana belum ada masjid. Anak-anak yang memeluk kepercayaan lokal umumnya juga melakukan ritual mereka sendiri. Kadang, anak-anak ini juga ikut kegiatan mengaji.

Demikian juga para orang tua. Mereka tetap hidup berdampingan dan harmonis. Pada malam-malam tertentu, biasanya tetangga kami yang memeluk kepercayaan lokal menyetel kaset wayang semalam suntuk. Volume suaranya biasanya bisa terdengar hingga warga satu RT (rukun tetangga). Akan tetapi, tidak pernah ada warga yang protes. Mungkin karena suasana kampung yang sepi dan gelap pada malam hari, suara pertunjukan wayang dianggap dianggap dapat menghangatkan suasana.

Pada saat-saat yang spesial seperti menjelang satu Muharram, biasanya para tetangga kami yang memeluk kepercayaan lokal melakukan ritual dan membagikan makanan seperti apem atau nasi kuning ke seluruh tetangga, tidak terkecuali. Satu keluarga mengirimi keluarga yang lain, saling berkunjung dan mengirim makanan. Demikian juga ketika Munggahan menjelang puasa dan Lebaran, para tetangga yang muslim juga berkunjung kepada para tetangga dan berbagi makanan. Pada Idul Adha juga demikian, warga muslim yang melakukan kurban, membagikan daging kurban kepada seluruh warga, tanpa terkecuali.

Jika ada tetangga yang meninggal, biasanya seluruh warga secara gotong royong mempersiapkan pemakaman, mulai dari menggali kuburan, mempersiapkan prosesi memandikan mayat, hingga hal-hal lainnya. Tentu saja, untuk urusan ritual, semua diserahkan kepada para tetua kepercayaan orang yang meninggal. Jika yang meninggal muslim, segala ritual dipimpin dan dilakukan dengan cara Islam. Jika yang meninggal memeluk kepercayaan lokal, segala ritual dipimpin dan dilakukan dengan cara kepercayaan lokal. Akan tetapi, semua warga biasanya ikut berpartisipasi.

Ketika satu atau dua tahun kemudian ada seorang ustad (Pak Lili) yang pindah dari Tasikmalaya ke kampung kami, para warga sepakat mendirikan masjid di kampung kami. Ada seorang tetangga kaya raya yang mewakafkan tanahnya untuk masjid. Masjid pun dibangun dengan gotong royong seluruh warga, tidak terkecuali yang bukan beragama Islam. Semua membaur dan membangun masjid tersebut dengan tenaga dan biaya patungan warga.

Pembangunan datang tak terhindarkan. Jalan diaspal. Perumahan baru tumbuh berkembang. Pendatang semakin banyak. Pengaruh perkotaan semakin memengaruhi kampung kami. Akan tetapi, suasana itu masih tetap terjaga.

Begitulah, di kampung kami perbedaan kepercayaan tidak pernah menjadi penghalang. Kami semua hidup rukun dan saling menjaga. Kami berusaha untuk saling memahami satu sama lain dan menjaga perbedaan sebagai kekayaan.***

2 thoughts on “Kepercayaan

    • kepercayaan lokal adalah kepercayaan yang dianut oleh kelompok masyarakat di sebuah daerah tertentu. Ada yang mengategorikannya sebagai agama lokal, ada juga yang menyebutnya sebagai kebudayaan lokal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *