Puisi

Lelaki yang Mencintai Puisi

Sebuah Nama

Namanya Herman. Lelaki pensiunan perbankan dengan badan besar dan suara rendah. Kulitnya agak putih untuk ukuran orang kita. Kadang ia menggunakan kaca mata hitam dan mengendarai motor Honda Tiger kalau datang ke tempat latihan teater. Terlihat punggung tangannya coklat kehitaman karena terbakar matahari selama berkendara. Semua orang sepertinya akan mudah mengenal ciri-ciri lelaki ini dari tertawanya yang selalu lepas dan menggelegar. Suara berat dan besar miliknya akan memenuhi ruangan jika ia tertawa.

Jika dilihat sekilas, mungkin orang akan menganggap ia aneh. Di dalam banyak kesempatan, ia sering berdiam diri. Mungkin banyak orang yang menganggapnya sedang melamun, atau menganggap ia orang stres.

Saya bertemu dengannya sekitar tahun 2010, kalau tidak salah. Kami sama-sama mengikuti salah satu program kursus, sekolah Lateral di GIM Bandung. Saya tidak mengenalnya begitu jauh, tapi di satu dua kesempatan kami ngobrol. Berkali-kali ia bilang kepada saya bahwa ia ingin belajar menulis puisi.

 

Puisi

Pak Herman jatuh cinta pada puisi. Ke mana pun pergi, ia selalu membawa buku puisi. Menurutnya, ia sebenarnya tidak terlalu paham ketika membaca puisi dari para penyair-penyair kondang atau puisi yang ia temukan di koran minggu. Tetapi setiap membaca puisi, ia selalu merasakan sesuatu yang aneh di dalam dirinya.

Di masa pensiunnya, ia seakan menemukan (kembali) kehidupan. Beberapa kali ia bercerita bahwa ia adalah seorang banker. Bertahun puluh-puluh tahun ia bekerja dengan sangat sibuk. Saya melupakan hidup, katanya. Ia sibuk dengan berbagai urusan, sangat tergila-gila dengan hitung-hitungan, dan akhirnya hidup sebagai robot: kerja, lembur, dan dikejar-kejar segala kesibukan. Hampir sepanjang hidupnya, ia menghabiskan waktu bersama angka-angka, jurnal, dan laporan. Dunianya semata-mata hanya angka-angka. Ia melihat dunia sebagai angka-angka.

Sampai suatu saat, ia mengatakan, ia sakit parah. Secara sarkas, “Harusnya gue udah mati, Jen” diikuti tawa yang meledak. Tapi Tuhan memberinya kesempatan untuk melanjutkan hidup. Ia menemukan puisi dan kesenian. Menemukan hidup yang telah “terampas” kesibukan.

Di fase inilah kemudian, entah bagaimana caranya, ia “bertemu” dengan puisi dan sastra, mengejar jadwal-jadwal pertunjukan teater, ikut menghadiri acara pembacaan dan musikalisasi puisi, hadir di acara-acara music balada dan kesenian. Secara kebetulan kadang, ketika saya menyempatkan nonton teater di beberapa tempat, saya bertemu dengannya. Ia bahkan sering datang jauh lebih awal dan masuk ke ruang ganti para pemain: menyapa, menyemangati, dan bahkan ikut mencoba menghayati beberapa karakter yang ia tahu.

Tiba-tiba saja darahnya mengalir seperti deras air sungai di pegunungan. Ia merasa hidupnya lebih berarti dan berwarna. Tiba-tiba saja ia masuk ke dalam puisi-puisi itu dan terbang melampaui kata-kata. Ia menembus tiap imaji kata, mereguknya, dan tenggelam di dalamnya. Kemudian, puisi menjadi semacam energi baru yang menggerakkan hidupnya. Ia begitu bersemangat membaca puisi sendiri di pojok-pojok ruang tertentu, atau kadang tidak ragu ia berteriak-teriak membacakan puisi-puisi yang ia suka. Orang-orang akan melihatnya dengan aneh atau kagum. Saya pernah menemukannya beberapa kali sedang asik membaca puisi di halaman GIM di Jalan Perintis Kemerdekaan. Sekali-kali juga menemukannya sedang membaca puisi di halaman Pasar Seni Tamansari.

Ia bercerita bahwa untuk ukuran orang yang mencintai puisi atau sastra, ia termasuk orang yang terlambat. Walaupun tentu saja tidak pernah ada kata terlambat. Kata terlambat adalah sebuah kata yang menyesatkan. Tidak pernah ada kata terlambat untuk mencintai apa pun. Dan kini, ia mencintai puisi sepenuh hati. Ia datang ke toko-toko buku untuk membeli buku-buku puisi, buku-buku cara menulis puisi, berburu koran minggu, dan mendatangi penyair-penyair yang sering beraktivitas di GIM atau Kebun Seni Tamansari (hanya dua tempat itu yang saya tahu, mungkin ia datang juga ke tempat-tempat lain).

Setelah pensiun dari pekerjaannya sebagai pegawai sebuah bank nasional, ia baru menyadari bahwa dunia berjalan dengan sangat indah, perih, kejam, lucu, dan sebagainya. Dan ia menemukan jalan menuju pemaknaan itu melalui puisi. Beberapa kali saya melihatnya membaca puisi sambil terhuyung-huyung, bahkan berguling-guling di lantai atau batu-batu parkiran. Baginya, hidup adalah panggung. Puisi adalah nyawa, puisi adalah obat.

Terapi

Ia bercerita bahwa dirinya mengalami sakit yang sangat parah. Tetapi ia tidak menceritakan sakit apa. Baginya, kemudian, membaca dan menulis puisi menjadi terapi yang membuat badannya kembali kokoh, kepalanya terbebas dari rasa sakit yang parah, dan memberikan kenyamanan yang luar biasa baginya untuk menjalani keseharian.

Ia jatuh cinta pada puisi seperti anak remaja mengenal getar pertama ketika melihat seseorang yang ia cintai. Penjelajahannya terhadap puisi sangat dalam dan penuh penghayatan. Kata-kata baginya adalah sumber kehidupan yang mesti ia syukuri, dalami, dan ia jalankan. Puisi seperti taman permainan yang membuat anak-anak takjub dan terus menjelajahinya. Ia menemukan hal-hal baru di dalam puisi: cinta, sedih, getir, pedih, hancur, frustasi, dingin, gejolak, resah, cinta pertama, penyesalan, kebahagiaan, kasih tak sampai, tawa, dan banyak hal.

Dalam banyak hal, saya merasa takjub dengan cara ia mencintai puisi. Mungkin ia bukan penyair yang bisa menghasilkan puisi-puisi hebat dan dikenang sepanjang masa. Akan tetapi, di dalam napasnya, puisi-puisi yang ditulis para penyair menemukan makna sebenar-benarnya makna, kekuatan sebenar-benarnya kekuatan, cinta sebenar-benarnya cinta, penghayatan sebenar-benarnya penghayatan. Puisi baginya bukan hanya kata-kata, tetapi segala sumber penghidupan yang begitu ia nikmati.

Lama kemudian saya tidak bertemu dengan Pak Herman sampai kemudian beberapa tahun lalu saya baca di tulisan Facebook seorang teman bahwa beliau telah meninggal dunia. Ada perasaan kehilangan yang sangat besar tentu saya rasakan, walaupun saya tidak begitu mengenalnya dengan baik. Ketika mendengar kabar tersebut, tentu saya berdoa semoga kehidupan beliau di alam sana seindah dan senikmat penghayatannya terhadap puisi-puisi yang ia cintai. Dialah lelaki yang mencintai puisi dengan sangat dalam.***

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *