Manusia dalam Sastra

Manusia dalam Sastra

Cerita,…, selamanya tentang manusia, kehidupannya, bukan kematiannya. Ya biarpun yang ditampilkannya itu hewan, raksasa atau dewa atau hantu. Dan tak ada yang lebih sulit dapat dipahami daripada sang manusia… jangan anggap remeh si manusia, yang kelihatannya begitu sederhana; biar penglihatanmu setajam mata elang, pikiranmu setajam pisau cukur, pendengaranmu dapat menangkap musik dan tatap-tangis kehidupan; pengetahuanmu tentang manusia takkan bakal bisa kemput

(Pramoedya Ananta Toer, 2009: 7)

Manusia

Manusia adalah makhluk yang kompleks. Ia tidak hanya hadir untuk hidup apa sebagaimana adanya binatang. Ia hadir sebagai makhluk yang berpikir dan berkehendak. Manusia hadir di dalam kompleksitasnya sendiri. Sifat mendasar yang melekat pada manusia adalah kehendak untuk melampaui apa pun. Dalam soal makanan, ia selalu berkehendak tidak hanya sekadar makan. Dalam soal pakaian, ia selalu berkehendak menjadikan pakaian tidak hanya sebagai pelindung dari panas dan dingin.  Dalam hal lainnya pun demikian. Ia selalu menjadikan apa pun sebagai aktivitas yang memiliki nilai ekonomis, simbolik, mitis, dan seterusnya.

Di dalam kompleksitasnya, manusia tumbuh dan hidup bersama cerita dan wacana. Apa pun yang ia alami akan ia hadirkan sebagai cerita. Ia hadir di dalam obrolan-obrolan, di dalam tulisan, siaran radio dan televisi, dan sebagainya. Foucault mengatakan bahwa manusia terlempar ke dalam bahasa. Manusia adalah bahasa. Tanpa bahasa, ia tidak lebih sebagai binatang. Di dalamnya, cerita menjadi medium yang membangun kehidupan dan peradaban manusia.

Proses kelahiran seorang bayi, menjadi sebuah perkara yang khusyuk dan sakral karena ia dibalut ke dalam cerita. Ia tidak dilihat hanya sebagai sebuah prosesi biologis. Di dalam tradisi Islam, misalnya, seorang bayi yang lahir harus disambut dengan azan dan doa-doa tertentu. Kelahiran seorang manusia menjadi bernilai lebih karena ia dimaknai dan dibalut di dalam cerita. Demikian juga kematian seorang manusia. Ia tidak hanya dilihat sebagai sebuah proses alami biologis bahwa setiap makhluk akan mengalami kematian karena struktur organ yang tidak lagi dapat bekerja. Tiba-tiba saja para pelayat ingin mengetahui bagaiamana proses, penyebab, dan kondisi “si mati” ketika mereka melayat. Cerita-cerita tentang bagaimana firasat keluarga dan teman, bagaimana kebaikan dan momen-momen kehidupan “si mati” hadir dan menjadi hal yang sangat penting dibicarakan di dalam kondisi berkabung. Si istri, suami, saudara, teman, bercerita tentang bagaimana “si mati” di dalam kehidupan kesehariannya atau di masa akhir hidupnya. Begitulah manusia, ia akan senantiasa hadir di dalam cerita, di dalam bahasa.

Sastra sesungguhnya adalah sesuatu yang telah melekat dengan manusia. Ia menjadi bagian yang sangat akrab di dalam kehidupan kita. Kita tentu mengingat bagiamana puisi-puisi dilantunkan oleh para orang tua atau saudara kita ketika kita kecil. Puisi dinyanyikan, cerita diceritakan. Ia membangun imajinasi dan kehalusan rasa kita.

Pada zaman dulu, hal ini berkembang menjadi sastra (lisan). Sebagian besar di antara kita masih mengalaminya hingga saat ini. Akan tetapi, seiring dengan semakin kompleksnya kehidupan manusia dan semakin kencangnya ritme kehidupan, terutama di kota-kota besar, manusia tidak mampu lagi berkontemplasi. Cerita menjadi sesuatu yang dianggap tidak penting. Manusia hidup di dalam laju yang teramat kencang dan sibuk. Ia tidak mampu lagi berkontemplasi. Pengalaman demi pengalaman ia lalui, tetapi sedikit sekali yang ditangkap dan dituliskan menjadi puisi atau cerita. Pengalaman manusia dalam beberapa hal memang misterius. Pertemuan manusia dengan tanda-tanda yang dikirim dunia (realitas) dalam pengalaman keseharian tidak semuanya bisa terartikulasikan secara verbal (Saidi, 2011: 231).

Sastra: Menangkap Pengalaman

Penyair dan pengarang menangkap pengalaman dan menyampaikannya ke dalam sastra. Daun yang jatuh menjadi sebuah pengalam kompleks yang ditangkap oleh seorang penyair. Ia menjadi peristiwa yang menghadirkan asosiasi-asosiasi dengan pengalaman dan perasaan yang telah atau sedang ia alami. Salju yang turun suatu saat di Paris menjadi peristiwa puisi yang menghanyutkan Wing Kardjo di dalam imajinasi dan renungan akan dosa dan tempat pulang mana yang layak untuk di di dalam puisi “Salju”. Sebuah senja yang khidmat di Pelabuhan Cirebon ditangkap oleh penyair Beni R. Budiman /Di pelabuhan Cirebon, laut dan hatiku beradu/ Gemuruh. Kapal-kapal berlayar dan berlabuh/Dan aku diam berjaga menanti senja yang entah:/O hidup, pelayaran sebentar, sebentar saja sampai!/ Kematian yang bagi sebagian banyak orang adalah sesuatu yang tabu dan menakutkan, ditangkap oleh penyair dan menjadi sesuatu yang sangat akrab. Ia menjadi pengingat bahwa hidup ini hanyalah sebuah sebuah pelayaran sebentar.

Seekor burung yang beristirahat di sebuah patung ketika ia melakukan migrasi ditangkap sebagai sebuah momen untuk menggali cerita tentang “Pangeran Bahagia” oleh Oscar Wilde. Patung seorang pangeran tersebut dilengkapi dengan batu-batu berharga. Sebagai patung, ia hanya mampu melihat dan menyaksikan berbagai kesedihan dan penderitaan warga kota. Lalu ia mengorbankan satu demi satu barang berharga miliknya untuk disampaikan kepada orang-orang yang ia lihat sedang menderita. Burung yang sedang migrasi tersebut menjadi sahabat yang berkorban tidak ikut migrasi karena ia harus membantu patung tersebut mengantarkan barang-barang miliknya. Mereka berdua berkorban untuk manusia, untuk kemanusiaan.

Begitulah sastra. Ia lahir dari kepekaan penyair dan pengarang. Ia lahir dari kegelisahan, perenungan, keinginan untuk mengubah keadaan, amarah, kepedihan dan kesedihan, dan sebagainya. Para sastrawan tidak hanya menangkap dan menjiplak peristiwa. Mereka mengolahnya sehingga cerita atau puisi yang mereka tulis memberikan peristiwa

Sastra, dalam banyak hal, erat kaitannya dengan kualitas kemanusiaan sang pengarang atau penyair, pun para pembacanya. A.S. Laksana di dalam pengantar kumpulan cerpennya, Murjangkung (2013), menulis “urusan pembaca adalah mengekalkan ingatan pada apa yang mereka sukai. Sebaliknya, urusan penulis adalah menghapus ingatan dari apa-apa yang sudah pernah ia bikin. Ia hanya memusatkan perhatian pada apa-apa yang sudah pernah ia bikin.” Tugas pengarang dan penyair adalah mencari bentuk dan peristiwa iaru untuk mereka tulis sehingga dapat memberikan pengalaman literer kepada para pembacanya. Sebaliknya tugas pembaca adalah mengekalkan ingatan pada apa yang mereka sukai. Penulis memberikan bahan, pembaca mengambil manfaat. Begitulah.

Sastra yang baik ditulis dengan kedalaman kontemplasi dan keahlian mengolah teknik. Peristiwa cinta, misalnya, merupakan peristiwa paling purba yang dialami umat manusia. Akan tetapi, sastrawan menangkapnya dan mengungkapkannya di dalam cara-cara yang baru.

Hawe Setiawan di dalam pengantar Penunggu Makam Benny R. Budiman (2003) menulis ketika penyair mati, puisi rasanya tidak berhenti… puisi ibarat jejak-jejak yang terawetkan di sepanjang jalan. Orang-orang lain yang kebetulan lewat di jalan yang sama, dan menemukan jejak-jejak itu, barangkali tergerak untuk memperhatikannya, menilik segi-seginya, atau menerka-nerka ke mana arahnya. Demikianlah sastra bekerja. Ia akan menampakkan wajah dan pengalaman baru pada setiap pembacanya. Sebuah puisi atau cerita akan memberikan pengalaman interpretasi baru pada setiap pembacanya sesuai dengan latar belakang pengalaman pembaca tersebut.

Sastra bekerja di dalam sunyi. Ia hadir sebagai representasi penyair dan pengarang. Ia merangsek masuk ke dalam imajinasi dan empati para pembacanya. Sastra mengajak manusia untuk masuk ke dalam imajinasi yang dituangkan di dalam teks. Pembaca memiliki peluang untuk menafsirkan dan menafsirkan ulang setiap peristiwa yang dihadirkan sastra.

Ahmad Tohari, misalnya, mengajak para pembacanya masuk ke dalam kompleksitas kehidupan seorang ronggeng di dalam Ronggeng Dukuh Paruk. Ronggeng, di dalam cerita tersebut, ditampilkan sebagai sebuah anugerah dan juga sekaligus kutukan. Bagaimana pembaca diajak masuk ke dalam pengalaman hidup ronggeng di masa inisiasi, kejayaan, dan masa yang buruk. Pembaca diceritai pengalaman unik di dalam karya ini. Mereka masuk ke dalam pengalaman literer yang sangat kompleks: ada kepolosan orang-orang dukuh, cara berpikir mitis, suasana desa, kekejaman politik, ketepurukan, keteganga, cinta yang tulus, dan sebagainya.

Misteri dan Imajinasi

Acep Iwan Saidi (2011: 232) menulis bahwa imajinasi mampu menembus batas nalar. Oleh karena itu, penyair yang jujur bisa menembus sekat-sekat misteri dalam pengalaman keseharian yang renik. Untuk itu, penyair tidak bekerja sepert halnya seorang sosiolog atau jurnalis yang menembus fenomena sosial dari lapis luar, dari data-data statistik, dan dari sejarah peristiwa. Penyair berangkat dari dalam, dari kejujuran menyikapi realitas. Penyair menelusuri lekuk-lekuk misteri manusia dengan kepekaan imajinasi. Dengan cara kerja ini, penyair (dan pengarang) mengolah peristiwa dan merepresentasikan lekuk-lekuk misteri manusia dan kemanusiaan.

Pada dasarnnya setiap penyair dan manusia kreatif berlomba-lomba bergerak mendekati batas Kosong dari dunia Isi kita ini. Mediasinya tak lain adalah wujud-wujud Ada ini sendiri… kalau orang berhasil “masuk” alam Kosong tadi, maka ia membawanya ke dunia Isi ini dan menuturkannya menurut gaya, bentuk, teknik, tradisi yang dia akrabi (Sumardjo, 2011: 9). Sastrawan memiliki kepekaan dan perjuangan kontemplatif untuk menangkap peristiwa yang diabaikan orang pada umumnya. Ia masuk ke dalam ketakberhinggan dan menyampaikannya kepada kita di dalam bentuk yang lebih konkret.  Mediasi penyair atau manusia kreatif tak lain adalah seni memperoleh sistem hubungan esensial terhadap segala sesuatu yang menjadi cara berpikirnya, untuk terhubungkan dengan alam kosong pada dirinya, sehingga muncul makna yang bikin bulu kuduk berdiri itu (Sumardjo, 2011: 10).

Penyair atau pengarang menyampaikan realitas melalui penyampaian yang khas. Cara kerjanya berbeda dengan peneliti atau jurnalis. Ia akan mencari bentuk-bentuk pengucapan yang baru dan segar. Boleh saja orang menyampaikan tema yang sama, tetapi bentuk penyampaian sastra haruslah baru. Dengan pengolahan bahan semacam ini, pembaca disuguhi hamparan pengalaman yang khas dan unik. Seorang pembaca akan mengalami bagaimana perasaan seorang tokoh ketika tokoh tersebut harus menyeberang ke pihak lawan di dalam sebuah peperangan, padahal ia mencintai negerinya sebagaimana di dalam novel Burung-Burung Manyar dan Burung-Burung Rantau Romo Mangunwijaya. Tito, tokoh tersebut, memiliki angan-angan tentang bagaimana Indonesia seharusnya dibangun, paradox di dalam kisah cintanya, dan seterusnya.

Di satu sisi, sastra menuntut penulis untuk memilih bahan yang bagus dan menyampaikannya dengan segar. Ia mesti memberi manfaat dan kesenangan kepada pembaca. Di sisi lain, pembaca akan mengalami pengalaman baru di dalam karya tersebut, dan memunguti apa yang ia anggap berharga.

Sastra dapat menyampaikan kebenaran dengan caranya sendiri. Hal ini membuat sastra memiliki peluang besar di dalam memberikan dan menjaga sifat kontemplatif manusia. Pembaca sastra tidak hanya didorong untuk menerima fakta di dalam karyas tersebut, tetapi sastra mendorong pembacanya masuk lebih jauh ke dalam kompleksitas kehidupan manusia. Hal ini membuat pembaca mengambil hal-hal yang dia anggap berguna, di samping ia mengalami kesenangan di dalam proses membacanya.

Di dalam kaitannya dengan kehidupan masyarakat saat ini, sastra dapat menjadi “jendela” yang lain bagi pembacanya untuk sejenak keluar darti rutinitasnya dan menemukan sebuah dunia lain di sana. Ia dapat memasuki setiap detail kehidupan yang dialami oleh seorang tokoh. Hal ini akan membuat pembaca memiliki pengalaman literer yang lain. Dengan demikian, ia dapat mengambil kesenangan sekaligus pembelajaran. Pembaca yang memiliki pengalaman membaca sastra yang kaya, ia akan memiliki pertimbangan-pertimbangan khusus yang lebih komprehensif ketika ia menghadapi kehidupan nyata di dunia kesehariannya.

Kontemplasi: Mencatat Diri

Di dalam kehidupan masyarakat kontemporer, kehidupan berlangsung dengan cepat. Orang-orang berkutat dengan ambisi, kompetisi, ilusi kesuksesan yang tidak esensial. Orang hidup di dalam tempo hidup yang sangat cepat. Orang-orang berubah menjadi sekrup di dalam mesin yang terus berputar kencang. Informasi datang seperti badai yang takterhindarkan. Rutinitas semakin mematikan akan sehat dan hati nurani.

Simon (2008: 61) menjelaskan bahwa manusia terus-menerus hidup dalam aura panas persaingan produktivitas, prestasi, kepentingan politis dan ekonomi, yang memicu rahasia mengambil jalan pintas, yang kerap brutal, illegal, immoral, dan berakibat fatal. Gempuran informasi yang memesona serta tawaran pasar yang menjanjikan transformasi progresif kualitas hidup seringkali hanyalah ilusi dan simulasi. Karenanya, manusia berhadapan dengan ambiguitas, dan ia sendiri akhirnya menjadi sesuatu yang ambigu. Itu sebabnya peradaban manusia pun rentang terjerembab ke dalam kubangan krisis eksistensial.

Orang-orang kehilangan tujuan, kehilangan sentuhan kemanusiaan. Mereka larut di dalam euforia ledakan informasi, ketakterbatasan komunikasi, di dalam hiruk pikuk budaya massa. Simon (2008) menjelaskan bahwa krisis eksistensial peradaban muncul dalam simptom hilangnya nilai-nilai luhur dan mendasar dalam hidupnya. Manusia tak lagi mempunyai prioritas hidup; tak lagi berani mencari makna terdalam.

Di dalam pandangan Badiou, manusia dapat memikirkan dirinya sebagai bagian dari dunia. Walau demikian, manusia tidak dapat mengelak dari keberadaannya (Being-there). Di dalam kaitannya dengan sastra, pengarang atau penyair dapat menemukan dan menyampaikan kebenaran dengan cara khas yang ia miliki. Misalnya, ketika sebuah peristiwa terjadi, seorang pengarang dapat dengan setia menelusuri mengapa peristiwa itu terjadi, bagaimana kejadiannya, siapa yang terlibat dan menyampaikannya secara situasional sesuai dengan gaya dan kemampuannya. Dengan demikian, ia dapat menyampaikan kebenaran versi dirinya yang khas. Di dalam hal ini, sebagai seorang manusia, pengarang menyadari bahwa ia merupakan bagian dari dunia. Akan tetapi, pada saat bersamaan, ia memiliki kesempatan untuk menegosiasikan keberadaan dirinya di dunia atau masyarakat melalui karya yang ia lahirkan. Akan tetapi, pengarang di dalam hal ini harus setia terhadap kebenaran yang ia yakini.

Pengetahuan (atau kebenaran) di dalam sastra berbeda sifatnya dengan kebenaran di dalam informasi media massa atau internet. Ia merupakan kebenaran terpilih yang disetiai oleh pengarang atau penyair. Penyair atau pengarang menemukan peristiwa, merenungkannya di dalam kontemplasi yang total, dan menyampaikannya kepada pembaca. Dengan demikian, apa yang lahir di dalam sastra adalah hasil seleksi ketat dari berbagai kebenaran yang ada di kehidupan manusia (khususnya pengarang/ penyair).

Okhtariza (2010) menjelaskan bahwa keberadaan manusia bergantung pada kehidupan di luar dirinya. Ia tak lagi dapat mengandalkan kesadaran-yang-solid untuk berbuat. Tetapi manusia harus mengarahkan perhatian pada Event (Kejadian). Peristiwa demi peristiwa hadir di dalam kehidupan manusia. Pengarang memilihnya secara ketat dan menuliskannya ke dalam karya sastra.

Misalnya, di dalam kasus Seno Gumira Ajidarma, kita lihat. Ketika Jakarta Jakarta dibredel menyangkut pemberitaan peristiwa Dili, SGA menuangkan pemikirannya di dalam bentuk cerita. Di dalam catatan pengantar untuk Novelnya “Trilogi Insiden” SGA menulis bahwa “kebenaran” akan muncul “dengan sendirinya” harus saya akui keliru, karena ternyata apapun yang menjadi keyakinan harus diperjuangkan. Cerita (sastra) menjadi salah satu saluran yang bisa dan biasa digunakan untuk merepresentasikan sebuah kejadian. Di dalam kasus SGA, misalnya, ia menjadikan sastra sebagai jalan lain untuk mengungkapkan kebenaran yang tidak mungkin disampaikan di dalam teks jurnalistik.

Keperluan kita tentang Kebenaran menambah pemahaman kita: momen politik bagi Badiou adalah momen yang menyoroti surplus representasi kekuasaan dengan cara menghadirkan “yang lain” yang belum muncul dalam state of situtation. Momen politik, bagi Badiou, haruslah dilihat dari relasinya atas kekuasaan. Ada banyak penulis yang melakukan hal tersebut. Sastra menjadi “jalan keempat” sebagaimana diungkapkan Aristoteles. Ada banyak peristiwa yang terjadi di dalam kehidupan manusia, dan pengarang menangkapnya dan menceritakannya di dalam bentuk sastra.

Bagi pembaca, sastra memiliki kemungkinan yang besar untuk menjadi “jendela” bagi kehidupannya. Di saat dunia manusia menjadi begitu riuh, bising dan glamor dengan urusan bisnis dan kerja sehingga manusia pun terbelenggu secara eksistensial (Pieper dalam Simon, 2008: 61). Sastra menjadi ruang untuk manusia berhenti sejenak dan memikirkan kembali esensi dan tujuan hidup yang akan dia capai. Bagi Pieper (Simon, 2008: 63) kebudayaan dimungkinkan karena adnya waktu senggang, sebab di sanalah lahir sikap “kultus”. Pieper memahami “kultus” itu sebagai gerak kea rah “sesuatu yang lebih” dalam kehidupan manusia. Sastra dapat memberikan peluang kepada manusia untuk lenih memahami dirinya, memahami kehidupannya.***

 

Daftar Pustaka

Barthes, Roland. 2009. Mitologi. Yogyakarta: Kreasi Wacana.

Laksana, A.S. 2013. Murjangkung Cerita Dungu dan Hantu-Hantu. Jakarta: Gagas Media.

Saidi, Acep. Iwan. 2011. Mendesain Penjara. Yogyakarta: Isac Book.

Okhtariza, Noory. 2010.

https://okthariza.wordpress.com/2010/12/09/sketsa-pemikiran-politik-alain-badiou/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *