memancing

Memancing

Setiap pagi dan sore, saya sering melihat orang-orang berjajar memancing di selokan kecil dekat kelurahan. Kadang-kadang saya juga melihat mereka pada siang hari, kadang ketika panas terik, atau  pada saat hujan. Saya melihatnya sambil lewat saja.

Saya suka merasa kagum dengan mereka. Bukan kagum pada apa yang mereka lakukan, tetapi pada cara mereka memelihara harapan (bahwa ada ikan di sana). Selokan dekat kelurahan itu belum lama jadi. Ia dibangun sebagai saluran drainase yang dijanjikan kontraktor jalan tol kepada para warga. Saya membayangkan, bagaimana tiba-tiba ikan bisa tumbuh di sana. Perkara bagaimana ikan bisa tumbuh di sana hingga sekarang masih menjadi pertanyaan saya. Akan tetapi, selalu saja ada orang-orang berjajar memancing di selokan itu setiap saya lewat.

Beberapa tahun lalu bibi saya marah-marah luar biasa karena mendapati suami yang telah berpuluh tahun hidup dengannya tergila-gila memancing. Kadang paman tidak pulang sampai satu minggu. Tentu bibi saya merasa kesal dan gusar. Selain ia harus mengurus perkara rumah tangga seorang diri, ia tentu khawatir dengan kondisi suaminya itu. Paman suka tiba-tiba pergi dari rumah tanpa pamit. Kadang juga ia tiba-tiba sudah tidur di kamar tanpa diketahui kapan datangnya.

Bibi sering mengumpati lelaki yang ia cintai itu, “Bapa, mikir. Bapa teh punya anak dan istri. Jangan mikirin ikan melulu Pa. Pikirin anak-anak.”

Tapi paman ya tetaplah seorang laki-laki keras kepala. Di kepalanya hanya ada pikiran tentang ke mana ia akan memancing berikutnya, mencari pakan pancing yang bagus, dan hanya ada ikan-ikan.

Paman termasuk lelaki yang berperawakan tinggi, putih, dan karismatik. Ketika kecil, saya sering ia bawa ke banyak tempat. Bukan untuk memancing, tapi jalan-jalan. Dulu paman sama sekali tidak punya hobi memancing. Pernah sekali waktu ia mengajak saya pergi ke Bogor. Sepulang dari bogor, kami menggunakan bus lewat cianjur. Di terminal Cianjur kami begitu saja turun dari bus dan masuk ke sebuah warung makan, tanpa sadar bahwa tas yang kami bawa tertinggal di bus. Ketika sadar, kami pun pontang-panting mengejar bus yang sudah mulai berjalan menuju luar terminal.

Ketika mulai kenal dengan hobi memancing, perawakan paman berangsur berubah. Badan yang tadinya besar dan kekar menyusut. Kulit yang putih berangsur gosong terbakar matahari. Gigi yang rapi berangsur ompong. Saya tidak tahu bagaimana itu bisa terjadi.

Kadang bibi bercerita kalau suaminya itu sedang memancing, paman suka lupa makan. Kadang seharian hanya ditemani beberapa bungkus rokok. Ketika ditegur oleh bibi, paman hanya menjawab enteng, “Memancing itu perlu konsentrasi tinggi, Kalau saya bentar-bentar makan, ikan-ikan pada kabur dong bu.” Bibi sudah bosan mendengar jawaban itu.

Pernah sekali waktu para tetangga di rumah ibu saya ribut. Kata mereka ada orang yang sedang memancing di kolam Pak Iri, tiba-tiba kesurupan. Badan orang itu tiba-tiba kejang dan kaku sekaku-kakunya. Matanya berputar-putar hingga yang terlihat hanya putih matanya saja. Orang-orang pun penasaran dan mendatangi kolam itu. Pak Haji Lili dipanggil ke sana untuk menyembuhkan orang kesurupan itu. Anak-anak berbondong-bondong pergi ke sana.

Ketika ayah juga penasaran dan pergi ke kolam itu, ia mendapati orang yang kesurupan tersebut ternyata adalah adik iparnya, paman saya. Tentu saja ayah merasa heran. Ia tidak tahu kalau paman saya memancing di kolam dekat rumah. Akhirnya dalam kondisi kejang dan tidak menyadarkan diri, paman digotong para tetangga ke rumah. Orang-orang pun berkumpul di rumah ibu penasaran dengan apa yang terjadi.

Kata Pak Haji, paman tidak kesurupan. Kemungkinan besar ia mengalami angin duduk. Ayah pun sibuk menggosoki badan paman dengan balsam dan memijat-mijatnya. Kondisi paman tetap saja seperti itu. Akhirnya para tetangga memanggil Mak Omah, ahli pijat di kampung kami. Mak Omah pun memijat paman, ia berusaha keras mengeluarkan angin yang bersarang di badan paman. Setelah setengah jam lebih dipijat, barulah paman menunjukkan tanda-tanda sadar.

Ketika sadar wajah paman pucat. Perawakannya sangat kurus. Ia tidak sadar sedang berada di mana. Perlu waktu beberapa saat sebelum ia mengenali kami. Ketika diajak berbicara pun pikirannya kosong. Ternyata, ia pingsan karena dua hari dua malam tidak makan.

Ibu menyiapkan makanan untuk paman. Sementara saya menelepon bibi untuk mengabarkan apa yang sedang terjadi. Di balik ujung telepon saya dengar bibi marah-marah, kesal dengan kelakuan paman. “Biar aja aki-aki itu mati. Malu-maluin. Beberapa hari gak pulang, eh dapat kabar kayak gini. Dasar aki-aki peot”. Sekitar satu jam kemudian bibi sampai di rumah untuk menjemput paman. Ia menangis sedih dan kesal melihat kondisi suaminya itu.

Beberapa minggu kemudian saya mendengar hobi memancing paman kambuh lagi. Ia bertualang dari satu tempat ke tempat lainnya, dari satu kota ke kota lainnya. Ia pergi memancing ke situ, waduk, ikut galatama, atau bahkan memancing di selokan-selokan kecil. Bertahun-tahun ia hampir melupakan kehidupan keluarganya di rumah. Di dalam pikirannya hanya ada memancing.

Setiap kali saya lewat jalan dekat kelurahan, setiap itu juga saya melihat pemancing berjajar di selokan itu. Kadang di dalam hujan yang deras, para pemancing itu berjongkok di bawah payung yang mereka bawa atau menggunakan jas hujan plastik. Saya selalu membayangkan betapa mereka mencintai aktivitas itu.

Ketika pulang lelah sehabis kerja, kadang, pemandangan seperti ini menjadi obat bagi saya. Kadang juga ketika menerima kegagalan atau keputusasaan di dalam pekerjaan, pemandangan ini menjadi terapi sendiri buat saya. “Harapan dan kesabaran tentu modal yang sangat penting bagi para pemancing, juga tentu bagiku.” Kadang gumam saya dalam hati.

Pemandangan seperti ini menjadi begitu akrab bagi saya. Saya kadang suka membayangkan mungkin di antara orang-orang yang berjajar memunggungi jalan itu ada paman saya di sana.***

 

Bandung, 2 November 2017

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *