membaca

Membaca

Sekali waktu, beberapa tahun yang lalu, pulang dari pameran buku, saya membawa beberapa buku yang saya beli ke tempat kerja. Seorang rekan kerja lalu mengomentari “Wah hebat, kamu beli buku, rajin ya.” Di lain kesempatan, ada seorang tetangga main ke rumah. Dia lalu berkomentar, “Wah hebat, rumah Kang Jejen banyak bukunya.” Tentu saja, komentar-komentar itu membuat saya tersenyum bingung. Membeli buku, tentu saja bagi saya, merupakan sebuah kewajaran, bahkan mungkin keharusan. Jika kebetulan ada uang, saya selalu menyempatkan diri mampir ke toko buku atau kadang mampir jika ada pameran buku. Tentu saja, saya membeli buku bukan supaya terlihat pintar, tetapi untuk saya baca.

Membaca, bisa jadi adalah salah satu kegiatan yang paling saya senangi. Di sana saya bisa menjelajahi berbagai dunia, karakter tokoh, kejadian, pemikiran, peristiwa, kesenangan, kesedihan, kemarahan, dan sebagainya. Sering, ketika membaca saya iri dengan cara bagaimana pengarang atau penulis berpikir dan menuangkan pikirannya ke dalam tulisan. Betapa mereka, bagi saya, adalah orang-orang yang dikaruniai bakat dan kemampuan yang luar biasa.

Misalnya, ketika membaca buku-buku dari sastrawan kenamaan seperti Iwan Simatupang, Utuy Tatang Sontani, Pramoedya Ananta Toer, Ahmad Tohari, Hamsad Rangkuti, Goenawan Mohamad, Seno Gumira Ajidarma, AS Laksana, Ayu Utami, Eka Kurniawan, dan banyak lagi, saya selalu ingin masuk ke wilayah bagaimana pengarang-pengarang ini bisa mencari ide dan mewujudkannya ke dalam tulisan yang saya baca. Membaca tulisan para pengarang, saya selalu merasa masuk ke dunia yang baru dari satu dunia ke dunia yang lain. Ada banyak pengarang yang berusaha mengukuhkan gaya bercerita (stilistika) yang relatif memiliki benang merah gaya daru satu cerita ke cerita yang lain. Akan tetapi, banyak juga pengarang yang memiliki pendapat bahwa perbedaan gaya dari satu cerita ke cerita yang lain adalah hal yang penting. Buat saya, semuanya luar biasa.

Sering juga saya berusaha mencari catatan pengarang atau catatan peneliti tentang bagaimana seorang pengarang berkreasi. Saya bisa membayangkan bagaimana cara berpikir pengarang, keseharian, dan bagaimana mereka melihat dunia. Kadang heran juga ketika saya menemukan catatan dari seorang pengarang tentang bagaimana ia berproses kreatif. Utuy Tatang Sontani, misalnya, sebagai sastrawan besar yang menulis banyak karya hebat, ia mengakui bahwa ia tidak suka membaca. Baginya membaca adalah persoalan yang membosankan. Ia mengaku lebih baik memperhatikan apa yang terjadi di sekitar kehidupannya dan menuliskannya sebagai cerita.

Ketika Sitor Situmorang menulis puisi “Malam Lebaran” yang fenomenal dan menjadi salah satu puisi yang banyak dibicarakan orang, ia mengaku menulis puisi itu ketika pulang dari rumah Pram yang kosong. Di perjalanan pulang, ia menemukan sebuah benteng dan naik ke sana. Di atas benteng itu, ia menulis puisi “Malam Lebaran”. Baginya, proses penulisan puisi itu bukanlah sebuah proses yang menghabiskan energy luar biasa besar. Akan tetapi, ketika puisi itu jadi dan dibaca banyak orang, puisi itu lantas memberikan banyak sekali “wajah” yang berbeda kepada setiap pembacanya. Puisi itu selalu memberikan pengalaman-pengalaman yang unik kepad para pembacanya.

Membaca Hamsad Rangkuti, misalnya, selalu memberikan kejutan-kejutan yang nakal di dalam karya-karyanya. Di dalam esai “Imajinasi Liar dan Kebohongan” ia menceritakan proses terjadinya cerpen tulisannya. Ia mengaku “Saya adalah pelamun yang parah. Saya suka duduk berjam-jam di atas pohon; membiarkan pikiran saya ke mana dia suka, tanpa saya mengontrolnya, dan saya merasa nikmat. Saya merasa berada di dunia lain, duia imajinasi; sebuah dunia ciptaan”.

Membaca memberikan banyak hal kepada saya: pengalaman, pengetahuan, imajinasi, dan sebagainya. Dengan membaca saya bisa menyelami berbagai dunia. Saya bisa loncat dari satu dunia ke dunia yang lainnya dengan menyenangkan. Membaca tentu adalah sebuah aktivitas yang bisa memberikan pembedaan bagi pengalaman dan pengetahuan banyak orang. Membaca semestinya menjadi bagian dari aktivitas keseharian siapa pun, dengan profesi apa pun.

Akan tetapi, kadang saya merasa ada saja pengalaman bertemu dengan orang-orang yang menganggap bahwa membaca adalah pekerjaan atau aktivitas yang luar biasa. Membaca dianggap sebagai kegiatan kalangan tertentu saja. Membaca dianggap sebagai kegiatan aneh yang hanya dilakukan para kutu buku. Membeli buku dianggap sebagai belanja dengan kategori “luar biasa”. Begitulah.

One thought on “Membaca

  1. kereen kang jen…buku sebagai sahabat berkelana dalam menjelajah peristiwa dunia yang belum kita pahami melalui pemikiran penulisnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *