proses kreatif

Tentang Menulis Buku

Yang susah dari menulis itu adalah bertahan untuk menjaga diri di dalam kejenuhan. Rata-rata aku duduk sehari sekitar enam jam untuk menulis. Sering juga aku dari pagi sampai malam tidak ke mana-mana dan terus berkutat dengan tulisan. Rutin dan membosankan, memang.

Kadang ada saat-saat frustasi ketika melihat tulisan kita yang sudah jadi. Ide yang ditulis dengan gairah menggebu-gebu, kadang seakan hambar seperti debu. Kata-kata seakan tidak berharga. Gelap melihat apa yang belum sempat ditulis juga adalah hal yang selalu kuhadapi. Menulis adalah membangun sesuatu yang sebelumnya tiada. Kata-kata mewujudkan cita, mewujudkan realita. Aku harus sabar memetakan apa yang akan diwujudkan.

Ketika melihat ke belakang, aku sudah mengerjakan proyek menulis buku ini sekitar dua tahun lebih, tapi terasa saja ide-ide lambat untuk diwujudkan menjadi tulisan. Aku tahu tulisan ini tumbuh, aku terus berusaha. Tetapi seperti mengamati anak-anak yang tumbuh di keseharian, progresnya seakan tidak signifikan. Di dalam semua proses itu, menemukan sudut pandang yang unik dan asik untuk mengelola ide adalah hal yang paling sulit. Kadang aku duduk di lantai di pojok jendela dan melihat tumpukan kertas tulisan yang sudah kucetak. Selalu muncul keraguan. Selalu muncul pertanyaan-pertanyaan tentang nasib naskah ini ke depan.

Tapi tentu saja aku tidak akan menyerah. Aku akan terus membaca, mencari, menggali, dan menuliskannya. Biar kelak kesulitanku ini akan memudahkan para pembaca.

 

Sabah Balau, 10 Februari 2019

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *