nama

Nama

Di kampung tempat saya tumbuh, nama memiliki arti tersendiri bagi para warga. Tentu saja setiap orang memiliki nama: nama pemberian orangtua atau nama di KTP dan KK.  Namun, ternyata nama yang diberikan orangtua atau nama resmi di KK dan KTP tidak cukup, ada nama panggilan teman yang kemudian menjadi nama populer bagi siapa pun yang tinggal di sana.

Saya sendiri memiliki nama kecil yang menjadi panggilan populer oleh siapa pun di kampung. Sempat suatu kali, ketika kelulusan SMA, sekolah mengirimkan surat kelulusan ke alamat rumah. Namun ketika surat dikirim kebetulan sedang tidak ada orang di rumah. Pak Pos bertanya kepada tetangga, pemilik warung, dan orang-orang yang sedang nongkrong di bengkel tambal ban. Tidak ada satu pun yang mengenal nama “Jejen Jaelani”. Walaupun mereka mengiyakan bahwa alamat betul ada dan mereka mengenali rumah saya, tetapi tidak ada satu pun yang mengenal nama saya. Jadilah surat yang dikirim Pak Pos itu dititip ke rumah Pak RT.

Tentu saya saya yang menunggu surat kelulusan was-was karena surat pengumuman kelulusan saya tidak juga datang. Setelah berhari-hari, ada obrolan ketika saya ke warung. Pemilik warung menanyakan “Siapa Jejen Jaelani, kamu kenal? Kemarin ada Pak Pos ngirim surat, suratnya dititip ke Pak RT.” Saya pun mengatakan bahwa Jejen Jaelani itu saya dan saya mengambil surat itu di Pak RT. Dari situ mulailah orang-orang sedikit mengenal nama saya yang sesungguhnya. Walaupun dalam beberapa waktu kemudian kebanyakan mereka lupa nama asli saya.

Ketika kecil, memiliki nama panggilan “Reda” di dalam keluarga. Ayah memberi nama panggilan itu karena ketika kecil saya sering mengalami kecelakaan dan sakit. Konon, kata orang pintar, nama “Jejen Jaelani” terlalu berat untuk saya. Orang pintar itu pun menganjurkan penggunaan nama lain untuk saya, dan ayah mengambil nama “Reda”. Hal yang sama juga terjadi pada kakak kedua saya, nama aslinya Muhammad Ramdan, kemudian memiliki panggilan “Widi” dan adik saya Rita Sukmayanti menjadi “Enon” karena alasan yang hampir sama. Karena digunakan sejak kecil nama panggilan saya, kakak, dan adik saya itulah yang dikenal warga.

Sempat suatu saat, ketika saya didaftarkan ke sekolah dasar, ayah mendaftarkan nama “Reda Jaelani” sebagai nama resmi saya. Nama itu kemudian menjadi nama resmi sementara. Namun celaka, guru yang mencatat pendaftaran saya menuliskan “Rendra Jaelani”. Jadilah nama resmi saya di sekolah adalah “Rendra Jaelani”. Nama itu kemudian menjadi nama saya di daftar hadir, rapor sekolah, dan bahkan buku SPP. Ketika ada pendataan ulang sekitar kelas 5 SD, barulah nama resmi saya berubah menjadi “Jejen Jaelani” sesuai dengan KK dan akta kelahiran. Tapi di kampung dan teman-teman sekolah, semua mengenal dan menyebut saya dengan nama kecil “Reda”.

 

Nama Alias

Kebanyakan orang di kampung, memiliki nama alias yang menjadi nama panggilan populer di sana. Ada banyak nama alias, terutama untuk para laki-laki: Agus Batre, Dani Ajo, Badil, Unay, Pedro, Endang Baduy, Dadang Benjol, Dadang Komped, Abron, Yana Kapal, Heri Black, Heri Juber, Tole, Aceh, Dede Iblis, Nandi Peot, Yana Betet, dan masih banyak lagi. Tentu saja nama-nama itu memiliki sejarahnya sendiri-sendiri.

Agus Batre, misalnya, adalah nama yang disandang oleh Kang Agus. Agus adalah seorang pedagang dan tukang ojek yang tinggal di sebelah utara kampung. Di luar pekerjaannya ia memiliki hobi sepak bola. Nama Agus Batre dilekatkan oleh kawan-kawannya bermain bola kepada Agus karena Agus adalah pemain yang tidak pernah berhenti berlari. Ia adalah seorang striker yang tenaganya kuat sekali karena sepanjang permainan ia kuat sekali dan terus berlari.

Ketika kami kecil ada seorang tukang ojek dan montir yang sangat andal bernama Kang Pedro. Kang Pedro adalah montir yang sangat terkenal bisa membetulkan mesin apa pun. Di samping pekerjaannya, ia adalah seorang yang tampil nyeleneh: berambut gondrong walaupun keningnya luas sekali, jarang mandi tetapi memiliki lebih dari dua istri, memiliki motor GL-Pro yang sangat kuat, kalau ngojek dia terkenal biasa membawa penumpang 3 bahkan 4 orang sekaligus. Sebenarnya hampir tidak ada satu pun di kampung yang mengenal nama asli Kang Pedro. Dia dipanggil Pedro karena orang-orang melihat sosok montir ini seperti penjahat di film-film Amerika Latin.

Lain lagi dengan Dede Iblis. Dede adalah seorang anak yang sangat nakal. Ketika SMP, ia terkenal sebagai anak paling badung di antara kawan-kawannya. Di kampung maupun sekolah ia menjadi anak yang paling tidak bisa diatur. Karena kenakalannya inilah, kemudian, kawan-kawannya memanggil ia dengan nama Dede Iblis. Yang menarik, kemudian nama ini dipakai oleh siapa pun untuk memanggil Dede. Panggilan atau sapaan “Iblis” menjadi sangat umum, bahkan ibu dan ayah Dede pun memanggil anaknya dengan nama Dede Iblis. Dede pun tidak pernah tersinggung dipanggil dengan nama “Iblis” oleh siapa pun.

Ada juga satu orang tua di kampung dengan nama yang sangat legendaris di sana: Endang Baduy. Kang Endang adalah seorang sopir dan montir yang sangat andal. Suatu saat, kampung kami dilanda dengan tren radio amatir pada tahun 80-90-an. Kode yang terkenal digunakan dalam komunikasi radio amatir ini adalah “break….break… dikopi…. rojer”. Kang Endang inilah salah satu penggagas dan orang yang paling aktif di dalam komunikasi radio ini. Pada saat itu, terdapat beberapa orang dengan nama Endang. Entah bagaimana awalnya untuk mengidentifikasi nama-nama ini digunakanlah nama alias kepada mereka. Satu orang disebut dengan nama Endang Sapi karena ia merupakan peternak sapi dengan jumlah sapi puluhan, satu Endang Kandang Sapi karena rumahnya terletak di kampung sebelah yaitu Kampung Kandang Sapi, satu lagi dipanggil Endang Baduy.

Begitulah, nama-nama alias ini kemudian menjadi salah satu cara untuk mengenali orang dan membedakannya dari orang yang memiliki nama sama.***

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *