ngopi sore

Ngobrol Sore

Satu pekan yang lalu, di hari Jumat sore, saya berdua dengan Pak Yasraf Amir Piliang ngopi di sebuah kedai kopi di Bandung. Berdua saja kami ngobrol tentang banyak hal: kesibukan kami, apa yang sedang dikerjakan, gosip orang-orang di sekitar, tenis, rumah, rencana kegiatan Forum Studi Kebudayaan, berbagai hal remeh-temeh, dan berbagai hal lainnya. Ngobrol santai dengan topik yang meluncur bebas bagi kami menjadi hal yang mengasyikan. Tidak terasa, di sore yang hujan itu kami ngobrol sampai lima jam lebih.

Di malam itu, kami pun merencanakan ngobrol lagi dengan mengajak teman-teman di Forum Studi Kebudayaan pada hari kamis pekan depannya. Satu pekan kemudian, kamis sore, tepatnya kami pun bertemu lagi. Kali ini ada Pak Yasraf, Yasmin Kartikasari (Ami), Abel, Mas Alfathri Adlin, dan saya. Beberapa teman lain, karena kesibukan dan lain hal, berhalangan ikut.

Cuaca lagi murung-murungnya dari pagi. Angin berhembus kencang dan gerimis dari pagi. Kondisi badan saya pun sedang tidak begitu sehat, agak flu setelah berhari-hari terkena hujan. Kami memilih tempat di sofa, di bangunan pendopo di belakang kedai kopi. Tempat yang agak sepi dan tidak banyak dilalui orang. Kami pun ngobrol hangat tentang banyak hal.

Pak Yasraf dan Ami bahkan sudah berbulan-bulan tidak pernah bertemu. Mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing. Pak Yasraf sibuk dengan kegiatan beliau yang minta ampun banyaknya di kampus dan luar kampus. Yasmin sibuk dengan kegiatan yoga, mengurus Abel dan Momo, kegiatan di Pustaka Lana, ikut berbagai pelatihan, dan banyak lagi. Sementara itu, Mas Alfathri, sekali-kali, bertemu Pak Yasraf kalau kebetulan ada acara diskusi atau kuliah umum. Saya sendiri sudah lama tidak bertemu Ami dan Mas Alfathri.

Perkara pertama yang dilakukan ketika ngobrol tentu adalah memesan makanan. Saya dan Pak Yasraf langsung memesan makanan berat. Sementara Ami dan Mas Al, memilih camilan dan minum saja. Mas Al, dia ternyata sudah agak lama mengatur ketat pola makannya. Semenjak dia jatuh sakit tahun lalu, dia dengan sangat sadar mengatur pola makan, istrahat, dan olah raga.

Dia bercerita, misalnya, tentang rutinitasnya berjalan kaki setiap pagi. Setelah salat subuh, biasanya dia berjalan kaki sekitar 30 menit di sekitar rumah sebelum mengantarkan anak-anaknya sekolah. Selesai mengantarkan anak-anaknya sekolah, sering juga dia datang ke ITB dan berjalan kaki minimal dua keliling. “Kalau saya hanya membaca buku dan duduk di kursi sepanjang hari, wah lama-lama pola hidup kayak gitu bisa membunuh saya.” Katanya sambil tertawa.

Menjadi seorang pemikir, tentu saja harus disertai dengan tubuh yang sehat. Konon, para filsuf Yunani yang selain mereka memiliki pemikiran yang luar biasa, mereka juga memiliki bentuk tubuh yang sehat dan kuat. Kota-kota tempat mereka tinggal mengharuskan mereka bergerak untuk bisa melakukan aktivitas dari satu tempat ke tempat lain.

 

Buku

Salah satu obrolan yang muncul adalah soal rencana peluncuran buku beberapa orang. Tanggal 7 Desember 2017, kami merencanakan akan meluncurkan ulang buku Pak Yasraf, Dunia yang Berlari. Sebenarnya, ini dilakukan agak mendadak ketika saya dan Pak Yasraf pekan lalu  ngopi berdua. Dengan persiapan hanya dua pekan, kami pikir diskusi buku itu bisa dilakukan dengan format acara yang sederhana. Setelah menyebutkan beberapa nama calon pembahas, kami pun memutuskan untuk meminta Prof. Freddy Permana Zen sebagai pembahas.

Pada tanggal 16 Desember 2017, kami juga akan meluncurkan buku puisi Pak Acep Iwan Saidi, Rindu. Persiapan peluncuran buku ini sudah direncanakan agak lama. Acara sendiri banyak digarap oleh teman-teman mahasiswa S3 Seni Rupa angkatan 2017 dan 2016. Peluncuran buku puisi ini akan disajikan dengan lebih beragam karena ada diskusi, pembacaan puisi, monolog, musik, pemutaran video, dll.

Di awal tahun juga rencananya kami akan meluncurkan beberapa buku secara berkala. Ada buku saya dan Pak Yasraf, Teori Budaya Kontemporer, ada buku Pak Acep, Desain, Media, dan Kebudayaan, ada buku Pak Yasraf Setelah Dunia yang Dilipat. Beberapa buku tersebut sebenarnya direncanakan terbit pada 2017, tetapi karena beberapa alasan, akhirnya mundur ke 2018.

Tentu, peluncuran buku pada akhirnya bukan hanya perkara memperkenalkan buku kepada khalayak luas. Akan tetapi, juga sebagai bentuk penghargaan kepada penulis. Menulis dalam banyak hal adalah pekerjaan yang sangat kompleks. Ia menyedot energi begitu besar dan juga menuntut ketelatenan membaca, ketelatenan menuangkan gagasan ke dalam tulisan.

 

Rencana

Begitulah, beberapa rencana hadir begitu saja dan meminta diwujudkan. Jika saya mengingat-ingat banyak kegiatan yang kami lakukan, sebagian besar lahir dari obrolan santai sambil makan siang atau ngopi. Jarang, atau mungkin hampir tidak pernah, sebuah ide kegiatan muncul dari meja rapat. Malah jika diingat-ingat, banyak rencana yang muncul dari meja rapat, tidak pernah terealisasi.

Mungkin suasana yang santai membuat pikiran kita lebih terbuka dan memungkinkan hadirnya berbagai ide. Berbeda dengan ketika rapat, biasanya, suasana yang relatif lebih formal membuat pikiran kita tidak terlalu bebas untuk memikirkan banyak hal.

Akhirnya, di sore kamis lalu, kami pun sepakat untuk ngopi bareng agak sering. Di sana mungkin akan muncul rencana menulis bersama, mendiskusikan pemikiran-pemikiran yang sedang kami konstruksi, berbagi pengalaman baca, membuat kuliah umum, diskusi publik dan seterusnya, atau mungkin hanya ngobrol santai untuk melepas penat dan kangen. Dan sore, mungkin, adalah waktu yang tepat untuk ngopi dan ngobrol santai. ***

 

foto: Rina Rianasari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *