Perkins

Max Perkins, Ego, dan Wolfe

Genius (2016) adalah film yang menarik untuk ditonton. Film yang disutradarai Michael Grandage ini merupakan kisah yang diangkat dari buku biografi karya A. Scott Berg Max Perkins: Editor of Genius (1978) dan Screen Play oleh John Logan. Film ini dibintangi oleh Collin Firth (sebagai Max Perkins), Jude Law (sebagai Thomas Wolfe), Nicole Kidman (sebagai Aline Bernstein), Guy Pierce (sebagai Scott Fitzgerald), dan Dominic West (sebagai Ernest Hemingway).

Film ini merupakan film yang berfokus pada kisah nyata kehidupan William Maxwell Evarts “Max” Perkins (20 September 1884 – 17 June 1947), seorang editor senior di sebuah perusahaan penerbitan besar di Amerika Scribner. Film itu mengisahkan ketekunan, antusiasme yang sangat besar, dan keseriusan seorang Max Perkins sebagai seorang editor yang mengorbitkan nama-nama besar seperti Ernest Hemingway, F. Scott Fitzgerald, dan Thomas Wolfe. Sebagai seorang editor, Max, memiliki kecerdasan dan intuisi yang tajam melihat potensi seorang penulis.

Pertemuan Max dan Tom diawal ketika Aline Bernstein, pacar Tom, mengirimkan naskah Tom kepada Max. Max membaca draf karya Tom dan jatuh cinta pada karya tersebut. Ia lantas memanggil Tom dan membuat kesepatakan kerja sama untuk mengedit dan mengubah bentuk karya yang kemudian diberi judul Look Homeward, Angel (1929). Draf awal yang dituliskan Tom diedit secara besar-besaran karena dianggap terlalu tebal dan belum siap untuk dinikmati pembaca luas. Pengeditan novel ini pun melibatkan pergulatan pemikiran Max dan Tom. Mereka lalu menjalin hubungan “spesial” sebagai seorang kawan. Max yang tidak memiliki seorang anak laki-laki, menemukan sosok anak laki-lakinya pada diri Tom. Tom yang tidak menemukan kawan diskusi yang sebanding pun, seakan-akan menemukan sosok kawan pada diri Max.

Ketika Look Homeward, Angel diterbitkan penjualan novel ini pun meledak dan menjadi karya best seller pada kala itu. Karier Tom sebagai seorang penulis pun melesat. Tidak lama kemudian, Tom dan Max menggarap karya Tom berikutnya Of Time and the River pada 1935 dan menjadi novel yang mengukuhkan keberadaan Tom di kesustraan Amerika.

Sebagai seorang penulis, Tom, memang memiliki bakat dan kecerdasan yang luar biasa. Dengan keadaan psikologis yang kompleks, kemudian terjadi perubahan-perubahan pada diri Tom. Puncaknya adalah ketika datang ke rumah Max pada saat Scott datang dengan istrinya yang mengalami depresi. Di sana Tom mengacau dan membuat keributan dengan Max dan Scott. Ia bertengkar hebat dengan Max.

Kemudian, Tom merasa bahwa ia tidak lagi memiliki kawan untuk bicara. Ia lalu mendatangi rumah Scott. Tom merasa harus mengunjungi Scott karena ia menganggap ia harus berbicara dengan seorang legenda, seorang yang namanya akan terus terukir di sejarah sastra dunia. Tom merasa bahwa Max adalah seorang yang tidak berperan dalam kehidupannya dan karyanya. Ia bahkan menganggap Max merusak dan mengubah bentuk karya-karyanya.

“Ada bicara dengan Max baru-baru ini?” Scott

“Jangan bicarakan soal Max.” Tom

“Kenapa tidak, Tom?” Scott

“Aku tahu dia temanmu, tapi kau tidak tahu apa-apa.” Tom “Dia membuatku lumpuh. Dia mengubah bentuk bukuku. Dia sudah mengakui itu, dan kemudian dia berusaha mengambil seluruh pujian atas kesuksesanku.”

“Itu tidak benar. Kau tahu seberapa besar kau membuatnya terluka?” kata Scott

“Kami saling melukai” timpal Tom.

“Jangan memutarbalikkan fakta, Tom.”

“Kau tidak tahu apa yang dia lakukan kepadaku”

“Apa yang dia lakukan kepadamu? Apa yang dia lakukan? Dia mewujudkan mimpimu jadi nyata. Dia memberimu karier. Dia memberimu kehidupan.”

“Itu. Kata pamungkas Scribner’s. Aku berharap lebih darimu.” Tom

“Dia percaya denganmu sementara orang lain tidak. Dia tuangkan semua harapan dan impiannya kepadamu. Semua hal yang tidak pernah dia lakukan. Semua buku yang tak pernah dia tulis. Dan sekarang kau membalasnya dengan tuduhan kasar dan buruk. Kau harusnya malu dengan dirimu sendiri! Pria itu sangat luar biasa terhadap persahabatan… dan kau menyia-nyiakan itu. Akan ada suatu hari saat kau tidak sukses seperti sekarang.  Semoga itu masih lama terjadi. Kenapa melukai orang yang selalu berjalan mendampingimu?” ujar Scott dengan kesal kepada Tom.

Pada adegan ini, Scott ingin menyadarkan Tom bahwa Max adalah orang yang berperan banyak di dalam karier Tom, juga Scott. Tom tidak akan melakukan pencapaian yang luar biasa dengan Look Homeward, Angel dan Of Time and the River tanpa campur tangan Max. Dengan kesal Tom pun pergi dan menyendiri sampai akhirnya dia tumbang sakit dan meninggal. Walaupun demikian, Tom pun pada akhirnya menulis surat kepada Max pada saat ia di ujung kematian.

Kepada Max, aku mendapatkan firasat. Dan aku mau menuliskan kata-kata ini untukmu. Aku sudah melakukan perjalanan panjang dan datang ke negara yang aneh dan aku melihat orang kegelapan sangat dekat, kurasa aku tidak terlalu takut dengannya. Tapi aku benar-benar mau hidup. Aku mau bertemu denganmu lagi. Karena semua kesedihan dan penyesalan dan semua yang tak pernah aku katakana kepadamu, untuk semua karya yang harus aku kerjakan. Aku merasa seolah jendela besar telah terbuka di dalam hidup. Dan jika aku melewati ini, aku berharap kepada Tuhan menjadi orang yang lebih baik dan bisa memperbaiki itu denganmu. Tapi yang terpenting, aku mau memberitahumu, tak peduli apa pun yang terjadi, aku akan selalu merasakanmu seperti yang aku rasakan pada bulan November itu saat kau menjemputku di pelabuhan, lalu kita pergi ke atas gedung, serta semua keanehan dan kejayaan dan kekuatan kehidupan berada di bawah.

Salam hormat, Tom.  

Mengubur Ego

Pada dialog antara Scott dan Tom, Scott menekankan bahwa Max adalah orang yang mengubur mimpinya. “Dia menuangkan semua harapan dan impiannya kepadamu” Scott mengatakan bahwa Max merelakan dirinya untuk tidak menulis. Dia mengorbankan dirinya, waktunya, hidupnya demi mengolah karya-karya orang lain. Bukan karyanya sendiri. Dengan kesal Scott Fitzgerald mengatakan bahwa Max menghabiskan tenaga dan pikirannya untuk melahirkan karya-karya orang lain, bukan karyanya.

Jika dilihat di dalam kehidupan nyata, kelahiran seorang penulis hebat, seniman besar, tentu bukan kerja mandiri mereka belaka. Ada banyak tangan, peran, antusiasme yang dicurahkan oleh sebagian orang untuk membuat orang lain sukses. Pencapaian bagi orang-orang tipe ini bukanlah pencapaian yang menempatkan diri mereka berada dalam sorak-sorai penghargaan untuk diri mereka sendiri. Akan tetapi, pencapaian bagi mereka adalah ketika mereka mampu melahirkan orang lain di sebuah bidang. Akan selalu ada orang-orang yang hidup di belakang layar. Mereka menciptakan bintang, seniman hebat, atau penulis besar. Mereka mengubur mimpi dan egonya. Max Perkins adalah salah satunya.

 

Sumber gambar: https://commons.wikimedia.org

One thought on “Max Perkins, Ego, dan Wolfe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *