Sepatu

Bagi banyak orang, alas kaki adalah hal yang penting, bahkan sangat penting. Darinya, bahkan, kita dapat melihat kepribadian, kegemaran, bahkan ideologi seseorang.

Suatu kali, saya membeli sebuah sepatu baru, sepatu kerja. Dari hasil menabung beberapa bulan, akhirnya saya dapat membeli sepatu itu. Tentu saja saya sangat senang. Sepatu baru, berarti, penampilan baru. Beberapa hari saya sangat antusias memakai sepatu itu. Namun, ternyata sepatu itu tidak berjodoh dengan saya. Ia hilang digondol maling ketika saya salat Jumat. Tentu saya sedih dan mengkel tidak kepalang. Dengan susah payah, saya harus merelakan sepatu itu hilang. “Mungkin ia tidak cocok dengan saya, semoga langgeng dengan pemilik barumu.” saya berusaha mengobati mengkel dengan berbicara kepada diri sendiri.

Begitulah, sepatu datang dan pergi. Kita beli, pakai, lalu rusak atau hilang. “Tak ada yang abadi” begitu kata band Peterpan.

Pada suatu hari, secara tidak sengaja, saya bertemu seorang kawan di sebuah toko sepatu. Ia tampak sedang memilih sepatu dengan sangat serius. Ketika saya hampiri, ia bilang sedang memilih sepatu untuk jogging. Ia bergonta-ganti mencobai berbagai sepatu yang ada di sana. Kata dia, “Memilih sepatu itu sakral, kita mesti benar-benar menemukan yang cocok untuk kita.” Agak berlebihan, tapi mungkin ada benarnya juga. Semenjak membeli sepatu itu, saya pun melihatnya beberapa kali di track jogging di Saparua.

Sepatu memang benda yang penting. Selain berfungsi, tentu ia juga menjadi elemen penting dari penampilan. Kawan tadi itu, misalnya, setelah membeli sepatu warna tertentu, ia lalu berusaha mencari pakaian lari yang warnanya sesuai dengan sepatu barunya. “Biar matching” katanya.

Bagi sebagian orang yang berduit, sepatu bahkan bisa menjadi investasi. Saya yang awam dengan soal sepatu tentu terheran-heran mendengar hal tersebut. Ada sepatu tertentu yang harganya mencapai angka jutaan atau bahkan puluhan juta. Di dalam pikiran saya, bagaimana bisa sepatu bisa sangat mahal. Namun, ternyata ada model-model dan merek-merek sepatu tertentu yang memang dikeluarkan dengan bahan yang khusus, desain spesial, jumlah yang sangat terbatas, dan harga yang sangat mahal.

Di Kantor, sering juga saya memperhatikan bagaimana orang menggunakan sepatu. Beberapa kawan, ada yang sangat memperhatikan penampilan. Warna sepatu harus sesuai dengan warna tas atau barang lain yang mereka gunakan.
Namun, ada juga orang yang tidak peduli. Seorang kawan saya yang bergelar doktor dan menjadi pejabat di kantor, malah merasa sepatu itu hal yang seakan-akan mengganggu hidupnya. Oleh karenanya, hampir ke mana-mana ia hanya menggunakan sandal jepit atau bahkan nyeker (tanpa alas kaki). Di beberapa kesempatan, ia ditegur oleh pimpinan. Akan tetapi, di hari-hari esoknya ia tetap saja lebih banyak menggunakan sandal jepit atau nyeker tanpa alas kaki. Bahkan, memakai sandal jepit atau nyeker seakan sudah menjadi trademark dia di mata orang-orang kantor. Ia tetap saja santai dan menikmati kebiasaannya itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *